Pembangunan ekonomi nasional saat ini masih menghadapi tantangan dalam hal kecepatan pemulihan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa mesin pendorong utama ekonomi saat ini hanya berasal dari sektor fiskal, sementara dari sisi moneter belum berjalan optimal.

Menurutnya, kondisi ini terjadi karena penggunaan instrumen moneter yang belum maksimal. Ia menilai, Bank Indonesia (BI) memiliki potensi untuk memberikan dukungan tambahan melalui injeksi likuiditas. Dalam rapat kerja dengan DPR, Purbaya menyebutkan bahwa BI telah menyerap dana dari perbankan sekitar Rp 1.000 triliun melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan open market.

“Jika bisa dibantu sedikit saja, lebih bagus lagi. Coba diketuk-ketuk sedikit supaya kita bisa jalan bersama,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa ada ruang yang aman untuk meningkatkan jumlah likuiditas tanpa memicu risiko inflasi yang berlebihan.

Dalam konteks ini, Purbaya menjelaskan bahwa pertumbuhan M0 (ukuran pasokan uang yang paling likuid) dapat meningkat hingga 20% jika didukung oleh BI. M0 mencakup uang tunai fisik yang beredar serta cadangan yang disimpan oleh bank komersial di bank sentral.

Beberapa data menunjukkan bahwa posisi uang primer atau M0 Adjusted pada Oktober 2025 mencapai Rp 2.117,6 triliun. Angka ini tumbuh sebesar 14,4% secara tahunan, namun pertumbuhan tersebut lebih lambat dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 18,6% yoy.

Selain itu, Purbaya juga menyampaikan bahwa pemerintah sudah melakukan beberapa upaya untuk meningkatkan aliran uang beredar. Namun, pertumbuhannya saat ini masih berada di kisaran 10% hingga 15%, atau sekitar 13%.

Ia menilai, pertumbuhan tersebut perlu dipercepat agar bisa mendekati angka 20% atau bahkan lebih. Untuk mencapai target tersebut, dukungan tambahan dari Bank Sentral sangat diperlukan.

  • Beberapa langkah yang mungkin dilakukan:
  • Meningkatkan alokasi dana dari SRBI dan open market.
  • Memastikan aliran uang beredar berjalan lebih cepat.
  • Meningkatkan koordinasi antara pemerintah dan BI untuk mempercepat proses.

Purbaya menegaskan bahwa kebijakan moneter harus sejalan dengan kebutuhan perekonomian. Dengan dukungan yang lebih kuat dari BI, pertumbuhan ekonomi bisa bergerak lebih cepat, sehingga memperkuat fondasi perekonomian nasional.

Kemajuan ekonomi yang berkelanjutan memerlukan keseimbangan antara kebijakan fiskal dan moneter. Dengan langkah-langkah strategis dan kolaborasi yang baik, perekonomian nasional dapat bangkit lebih cepat dan stabil.