Pentingnya Persatuan dan Pemahaman Budaya dalam Membangun Bangsa
Sekretaris Departemen Wawasan Kebangsaan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI), Dr. Jelly Nasseri, S.H., M.H., secara tegas menyerukan pentingnya mengubur stigma masa lalu dan memperkuat persatuan bangsa. Ia menekankan bahwa tidak ada lagi ruang bagi diskriminasi dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Penegasan tersebut disampaikan dalam pemaparan materi bertajuk “Pemantapan Nilai-Nilai Wawasan Kebangsaan” yang digelar di Dewi Air, Jalan International Karawang Barat, Jumat 28 November 2025 malam.
Di hadapan para peserta, Jelly mengingatkan kembali visi besar PSMTI untuk menciptakan masyarakat yang bersatu, adil, dan makmur. Pembauran budaya dan persamaan hak dinilai sebagai kunci utama memajukan bangsa. “Keturunan Tionghoa di Indonesia adalah WNI. Kita punya hak dan kewajiban yang sama persis dengan suku-suku lainnya di nusantara,” kata Jelly, membakar semangat peserta.

Amanat Konstitusi Hapus Istilah Pribumi
Jelly meminta agar istilah Pribumi dan Non-Pribumi dihilangkan sepenuhnya dari tatanan sosial. Dalam paparannya yang lugas, ia menyinggung sejarah panjang perjuangan kesetaraan di Indonesia dan menggarisbawahi pentingnya Instruksi Presiden Nomor 26 Tahun 1998. Aturan ini menjadi tonggak sejarah yang “mengharamkan” penggunaan istilah pembeda tersebut dalam kebijakan pemerintah.
“Inpres ini bukan sekadar aturan, tapi amanat konstitusi. Tujuannya menghentikan penggunaan istilah diskriminatif. Semua manusia memiliki derajat yang sama, tidak boleh ada perbedaan perlakuan hanya karena latar belakang suku atau ras,” ujarnya. Dampak kebijakan tersebut kini mulai berbuah manis. Ekspresi budaya Tionghoa dapat dinikmati bebas di ruang publik, dan partisipasi etnis Tionghoa dalam pemerintahan kian terbuka lebar.
Menutup penjelasannya, Jelly mengajak seluruh elemen PSMTI untuk tidak ragu berkontribusi total bagi negara, mencontohkan tokoh berprestasi seperti Susi Susanti hingga Basuki Tjahaja Purnama. “Mari berkarya bersama. Kita bangun bangsa ini menuju Indonesia Maju tanpa ada lagi sekat-sekat pembeda,” tegas Jelly.
Mengenang Heroisme “Hantu Selat Malaka”
Diskusi semakin hangat ketika Aktivis sekaligus Pendiri Museum Pustaka Peranakan Tionghoa, Azmi Abubakar, mengangkat sosok Laksamana Muda TNI (Purn) John Lie (Lie Tjeng Tjoan). Azmi menyoroti minimnya pengenalan sosok Pahlawan Nasional ini di institusi pendidikan, padahal jasanya dalam mempertahankan kemerdekaan RI sangat kolosal.
Azmi mengungkapkan fakta mencengangkan mengenai heroisme John Lie yang kerap dijuluki “Hantu Selat Malaka” oleh militer Belanda karena aksinya menembus blokade laut demi menyelundupkan hasil bumi untuk membeli senjata bagi pejuang republik. “John Lie itu satu-satunya Pahlawan Indonesia yang berasal dari etnis Tionghoa (yang berlatar militer). Memang sayangnya, di dinding-dinding sekolah itu belum terpampang. Kalau Karawang bisa melakukan ini (memajang foto John Lie), Karawang pertama di Indonesia,” ujar Azmi dengan nada berapi-api.
Azmi menambahkan bahwa kemampuan militer John Lie sangat luar biasa dan tercatat rapi dalam ribuan lembar dokumen sejarah. “Dia masuk ke TNI Angkatan Laut dengan pangkat yang paling rendah, Kelasi Kelas 3. Padahal dia punya kemampuan militer dari pendidikan sekutu. Ujungnya, dia sampai (pangkat) Laksamana. Enggak ada tandingannya sebetulnya orang seperti itu,” kata Azmi.
Jejak Sejarah Islam dan Kemandirian Organisasi
Selain aspek militer, Azmi juga memaparkan sejarah penyebaran Islam yang melibatkan etnis Tionghoa, bahkan sejak zaman Nabi Muhammad SAW. “Ada masjid yang didirikan Sa’ad bin Abi Waqqash di Guangzhou. Beliau pun dimakamkan di Tiongkok tepatnya di Lingshan,” katanya.
Menutup sesinya, Azmi memuji kemandirian PSMTI sebagai organisasi yang konsisten hadir dalam penanganan bencana tanpa membebani anggaran negara. “Inilah organisasi satu-satunya yang tidak pakai proposal kalau ada kegiatan. Kalau PSMTI mengajukan proposal ke pemerintah, itu belum pernah saya dengar ceritanya,” kata Azmi.

Tepis Eksklusivitas
Sementara itu, Ketua PSMTI Jawa Barat, Suwanda Holy, menyampaikan harapannya agar PSMTI Karawang yang baru dibentuk dapat menyebarluaskan wawasan kebangsaan ini kepada khalayak luas. “Melalui diskusi ini kita harus bisa bersatu sebagai bangsa. Seperti yang dikatakan Dr Jelly jangan sampai ada istilah pribumi dan non pribumi. Kita adalah bangsa Indonesia yang satu,” ucapnya.
Suwanda pun memberikan ucapan selamat kepada Ketua PSMTI Karawang dr Joewono Sandjaja. Ucapan selamat ini dikarenakan PSMTI Karawang berhasil mengumpulkan anggota ratusan orang untuk bergabung. “Mereka yang bergabung ini pun banyak tokoh-tokoh penting di Karawang,” ucapnya.
Senada dengan itu, Ketua Harian PSMTI Jabar, Dr. Djoni Toat, S.H., M.M., membantah anggapan bahwa etnis Tionghoa bersifat eksklusif. Ia menegaskan bahwa etnis Tionghoa adalah bagian tak terpisahkan dari tubuh bangsa Indonesia. “Sebagai etnis Tionghoa pun seharusnya bisa berbaur dengan masyarakat. Tidak membeda-bedakan satu sama lain karena kita semua adalah Bangsa Indonesia yang ingin Indonesia lebih baik lagi di masa mendatang,” katanya.
Pada kunjungan PSMTI Jawa Barat ke Karawang tersebut diisi pula dengan kunjungan ke kediaman Djiaw Kie Siong. Seperti diketahui rumah tersebut adalah rumah perjuangan yang merupakan tempat persiapan kemerdekaan saat para pemuda menculik Bung Karno dan Bung Hatta agar segera mendeklarasikan Kemerdekaan Indonesia.

Tinggalkan Balasan