Pembentukan Tim Pencari Fakta untuk Menjelaskan Konflik Internal PBNU
PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) mengambil langkah penting dalam menangani konflik internal yang sedang berlangsung. Rais Aam PBNU, Miftachul Akhyar, mengumumkan pembentukan Tim Pencari Fakta untuk melakukan investigasi terhadap informasi dan opini publik yang berkembang di tengah masyarakat.
Menurut pernyataan Miftachul melalui keterangan tertulis pada Sabtu, 29 November 2025, tim pencari fakta akan melakukan investigasi secara utuh dan mendalam agar bisa memperoleh kesahihan dari berbagai informasi yang beredar. Ia menekankan pentingnya proses ini agar dapat memastikan kebenaran dari semua isu yang muncul.
Dua Wakil Rais Aam PBNU, yaitu Anwar Iskandar dan Afifuddin Muhajir, ditunjuk sebagai pengarah dalam tim pencari fakta tersebut. Dengan penunjukan ini, diharapkan investigasi dapat dilakukan dengan objektif dan transparan.
Selain itu, Miftachul juga memerintahkan penangguhan implementasi Digitalisasi Data dan Layanan atau Digdaya Persuratan Tingkat PBNU hingga proses investigasi selesai. Penangguhan ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa tim pencari fakta dapat menjalankan tugasnya tanpa gangguan.
Namun, implementasi Digdaya Persuratan Tingkat Pengurus Wilayah NU dan Pengurus Cabang NU tetap berjalan sebagaimana mestinya. Hal ini menunjukkan bahwa PBNU tetap menjaga operasional organisasi di tingkat bawah meskipun sedang menghadapi situasi kritis di tingkat pusat.
Perkembangan Konflik Internal PBNU
Gejolak di tubuh PBNU memanas setelah hasil rapat harian Syuriyah—majelis tinggi PBNU—yang meminta Yahya Cholil Staquf mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum PBNU pada pekan lalu. Jajaran Syuriyah menilai Yahya sudah melanggar Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta Peraturan Perkumpulan Nahdlatul Ulama Nomor 13 Tahun 2025.
Bentuk pelanggaran yang disebutkan adalah ketika pengurus menghadirkan pemateri pro-Israel, Peter Berkowitz, di acara Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama di Jakarta, pada pertengahan Agustus 2025. Selain itu, jajaran Syuriyah juga menyoal tata kelola keuangan di lingkungan PBNU.
Pada Jumat, 28 November 2025, Yahya mengklaim dirinya bisa menjelaskan tudingan yang dijadikan dasar oleh Syuriah untuk mendepaknya dari kursi kepemimpinan PBNU itu. Ia menyatakan bahwa ia sudah mendengar berbagai hal yang menjadi alasan keberatan tentang dirinya.
“Semua bisa saya pertanggungjawabkan, asalkan saya diizinkan untuk memberi penjelasan,” ucap Gus Yahya—begitu Yahya Staquf akrab disapa—di kantor PBNU, Jakarta Pusat.
Yang menjadi persoalan, menurut Yahya, adalah hingga saat ini dia tak diberi kesempatan untuk menjelaskan. “Kalau saya punya penjelasan, selesai semua. Tidak ada masalah yang perlu diperuncing dalam soal ini,” kata dia.
Langkah-Langkah yang Diambil oleh PBNU
PBNU telah mengambil beberapa langkah strategis untuk menghadapi situasi ini. Selain membentuk Tim Pencari Fakta, pihak PBNU juga memastikan bahwa operasional organisasi di tingkat wilayah dan cabang tetap berjalan normal. Hal ini bertujuan untuk menjaga stabilitas organisasi meskipun sedang menghadapi tantangan internal.
Selain itu, PBNU juga menegaskan komitmen mereka untuk menjalankan proses investigasi secara transparan dan objektif. Dengan adanya Tim Pencari Fakta, diharapkan dapat memberikan jawaban yang jelas dan memenuhi harapan publik serta anggota organisasi.

Tinggalkan Balasan