Peran Survei dalam Memahami Kesehatan Mental Warga Jakarta

Ketua Umum Rekan Indonesia, Agung Nugroho, memberikan tanggapan terhadap pernyataan Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno yang menyarankan adanya survei untuk memastikan tingginya angka depresi di ibu kota. Ia menilai bahwa survei bisa menjadi alat penting, tetapi tidak boleh menjadi penghalang bagi pemerintah dalam merespons kebutuhan warga.

Agung menjelaskan bahwa survei memiliki nilai positif, tetapi yang lebih penting adalah empati terhadap kondisi warga yang sedang mengalami tekanan mental. “Survei itu penting, tetapi yang tidak kalah penting adalah empati. Di balik angka, ada manusia yang sedang menahan banyak hal dalam diam,” ujarnya.

Perubahan Kehidupan dan Tekanan Mental

Ia menilai bahwa kehidupan warga Jakarta berubah sangat cepat, sehingga tekanan mental sering muncul jauh sebelum terdeteksi melalui survei formal. “Masyarakat kota besar tidak selalu pandai bercerita tentang perasaannya. Banyak yang memilih menyimpan, menunda, atau mengalihkan,” katanya.

Agung mengingatkan bahwa fokus berlebihan pada angka dan verifikasi data bisa membuat pemerintah luput melihat perjuangan warga dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, depresi di Jakarta bukan hanya persoalan klinis, tetapi juga akibat rutinitas melelahkan, kemacetan, kesepian di tengah keramaian, serta tekanan ekonomi.

Pentingnya Tindakan Cepat

Agung memahami kehati-hatian pemerintah dalam membaca data, tetapi ia menegaskan bahwa proses survei yang terlalu panjang dapat menghilangkan momentum perubahan. “Pemerintah tidak perlu menunggu survei sempurna untuk mulai menyediakan ruang aman, layanan konseling yang mudah dijangkau, atau kampanye yang menguatkan,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa keseriusan pemerintah terlihat dari kehadiran layanan yang membuat warga merasa tidak sendirian. “Kadang yang dibutuhkan seseorang bukan diagnosis, tetapi pintu yang bisa diketuk ketika hidup terasa terlalu berat,” ucapnya.

Kesehatan Mental sebagai Bagian dari Kualitas Hidup

Agung juga mendorong Pemprov DKI memandang kesehatan mental sebagai bagian dari kualitas hidup kota. “Jakarta sering bicara tentang pembangunan, tetapi kesehatan mental adalah pembangunan yang tidak terlihat. Ia menyangkut kedamaian hati warganya,” ujarnya.

Ia mengapresiasi niat Wagub, tetapi berharap survei tersebut menjadi langkah awal, bukan alasan untuk menunda tindakan. “Silakan survei, itu baik. Tapi jangan biarkan survei membuat kita menunggu terlalu lama untuk bertindak. Warga sudah memberikan sinyal. Tugas kita mendengarnya, bukan setelah data lengkap, tetapi sejak sekarang,” kata dia.