Apel Srawung Agung: Sinergi Pemerintah dan Polri dalam Menjaga Keamanan Jogjakarta

Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar Apel Srawung Agung pada Jumat (21/11). Acara ini dihadiri oleh sekitar 3.500 personel yang terdiri dari berbagai instansi terkait. Salah satu tokoh penting yang turut hadir adalah Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, yang menunjukkan komitmen penuh untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di wilayah Jogjakarta.

Tujuan dan Makna Apel Srawung Agung

Apel Srawung Agung diselenggarakan sebagai bentuk peneguhan komitmen bersama dalam menjaga kondusivitas wilayah menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru. Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X menyampaikan bahwa pihaknya ingin memastikan keamanan dan ketertiban masyarakat tetap terjaga. Dalam acara tersebut, sebanyak 3.500 orang ambil bagian, termasuk 1.000 personel yang terpusat di Mapolda Jogjakarta dan 2.500 lainnya tersebar di lima polres dan jajaran.

Sri Sultan menyampaikan harapan agar Jaga Warga tetap menjadi pagar budaya yang menjaga harmoni, menjadi sahabat masyarakat, serta mitra Polri yang memperkuat keteduhan di tengah dinamika sosial. Ia juga memberikan apresiasi atas dukungan 10 ribu rompi Jaga Warga dari Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Rompi tersebut dianggap sebagai simbol keteduhan dan menegaskan bahwa garda keamanan hadir untuk “ngayomi lan ngemong”, bukan menakuti.

Peran Jaga Warga dalam Meningkatkan Kamtibmas

Sultan menekankan pentingnya sinergitas antara pemerintah dengan Polri dalam menjaga kamtibmas di Jogjakarta. Ia berharap jika Polri bekerja dengan tata, titi, tatas, titis, dan Jaga Warga melangkah dengan tanggap, tangguh, tuntas, maka Jogjakarta akan senantiasa berada pada suasana titi tentrem, karta raharja, aman, tertib, makmur, dan sejahtera bagi seluruh warganya.

Tanggapan dari Kapolri

Dari sisi Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Apel Srawung Agung merupakan simbol persatuan dan kesatuan masyarakat dalam lingkup pranata atau keteraturan sosial. Menurut dia, acara ini adalah warisan kebudayaan dan kearifan lokal masyarakat Jogjakarta yang terus dijaga. Ia juga mengakui bahwa Polri tidak bisa bekerja sendiri, sehingga keterlibatan masyarakat sangat penting.

”Ini adalah warisan kebudayaan dan kearifan lokal masyarakat yang sudah ada sejak dulu. Ini terus ditumbuhkan dan dikembangkan. Saya minta kepada jajaran Polres, Polsek, kelurahan agar berkolaborasi dan bersinergi dengan jaga warga. Ini adalah kekuatan bersama untuk menjaga keteraturan bersama di Kota DIY,” ujarnya.

Kesimpulan

Apel Srawung Agung tidak hanya sekadar upacara rutin, tetapi juga menjadi momentum penting dalam memperkuat hubungan antara pemerintah, Polri, dan masyarakat. Melalui kerja sama yang solid, diharapkan Jogjakarta dapat tetap aman dan nyaman, baik dalam situasi normal maupun menjelang perayaan besar. Dengan adanya Jaga Warga sebagai mitra aktif, semangat kebersamaan dan keharmonisan masyarakat semakin kuat.