Pemain-pemain di sektor energi terbarukan di Indonesia menunjukkan strategi yang berbeda dalam menghadapi proyek waste to energy (WtE) atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Dua emiten besar, PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) dan PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), memilih jalur yang berbeda dalam menghadapi peluang ini. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut tentang langkah-langkah yang diambil oleh masing-masing perusahaan.

TOBA Memilih Fokus pada Bisnis Baru

Direktur TOBA, Juli Oktarina, menyatakan bahwa perusahaan masih dalam proses evaluasi terkait keterlibatan dalam proyek WtE. TOBA tidak ikut serta dalam gelombang pertama lelang proyek tersebut, karena ingin fokus pada pengembangan bisnis baru.

“Kita mau melihat dulu. Tahun 2025 baru selesai yang Cora Environment, kita lihat kapasitas internal seperti apa, dan bagaimana eksekusi di lapangan,” ujar Juli saat diwawancara.

Cora Environment adalah anak usaha TOBA yang akan menjadi salah satu jangkar bisnis setelah perusahaan meninggalkan usaha batubara pada 2030. Entitas ini sebelumnya bernama SembWaste dan Sembcorp Environment, yang diakuisisi TOBA pada awal 2025. Cora berfokus pada layanan ekonomi sirkular dan pengelolaan limbah.

Meskipun TOBA belum terlibat dalam lelang proyek WtE tahap pertama, Juli menegaskan bahwa perusahaan tetap membuka peluang untuk ikut dalam batch berikutnya.

“Saat ini belum. Tidak (ikut lelang pertama), tapi ke depan ada peluang kami review lagi,” tambahnya.

OASA Mantap dengan Konsorsium Besar

Berbeda dengan TOBA, OASA sudah memutuskan untuk bergabung dengan konsorsium bersama perusahaan pengolah sampah asal China, Grandblue Environment Co Ltd, dalam mengikuti tender proyek WtE Danantara. Grandblue merupakan salah satu dari 24 perusahaan global yang masuk Daftar Penyedia Terseleksi (DPT) dan berhak mengikuti lelang WtE Danantara tahap pertama.

Direktur Utama dan CEO OASA, Bobby Gafur Umar, menjelaskan bahwa ada tiga perusahaan yang mendekati OASA untuk menggandengnya dalam konsorsium. Namun, pilihan jatuh pada Grandblue karena kapasitas olahnya sangat besar.

“Saya pilih pertama Grandblue. Kapasitas olahnya hampir 99 ribu ton per hari. Total sampah Indonesia 175 ribu ton, jadi mereka besar sekali, nomor dua di China. Saya mau coba sama dia,” ujar Bobby.

OASA juga tengah mendorong agar proyek PLTSa Tangerang Selatan (Tangsel) yang telah mereka menangkan sebelumnya dapat masuk ke dalam skema WtE Danantara. Proyek ini dilaksanakan sebelum Peraturan Presiden (Perpres) WtE dikeluarkan. Saat itu ada pilihan: ikut skema lama dengan konsekuensi tipping fee, atau ikut skema baru.

Saat ini OASA masih berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Tangsel untuk mengajukan integrasi tersebut. Pengajuan hanya dapat dilakukan atas persetujuan pemerintah daerah.

“Kami sudah koordinasi terus. Pemerintah pusat juga mengusulkan agar dilakukan pengajuan dan dikaji apakah bisa ditransfer ke skema baru tanpa tender ulang,” ujarnya.

Selain itu, OASA melalui anak usahanya PT Indoplas Energi Hijau, telah membentuk konsorsium bersama China Tianying Inc (CNTY) untuk menggarap PLTSa atau fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Cipeucang di Tangsel.

Surat penetapan pemenang lelang proyek telah diterbitkan Pemda Tangsel pada 21 Maret 2025. Bobby menargetkan pembangunan dapat groundbreaking pada akhir 2025 sehingga konstruksi bisa dimulai pada awal 2026. Masa pembangunan diperkirakan sekitar tiga tahun, dengan target operasi pada 2028.

PLTSa Cipeucang direncanakan mengolah 1.100 ton sampah per hari, terdiri dari 1.000 ton sampah baru dan 100 ton sampah lama di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang.