Sentimen Positif Mendorong Kinerja Reksa Dana

Beberapa faktor positif yang muncul dalam beberapa waktu terakhir memberikan dampak signifikan terhadap kinerja produk investasi reksa dana. Hal ini didorong oleh berbagai stimulus ekonomi yang mulai dijalankan, perbaikan likuiditas di sektor perbankan, serta kebijakan moneter yang semakin rileks.

Ezra Nazula, Director & Chief Investment Officer Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), menilai bahwa meskipun data ekonomi belum menunjukkan peningkatan nyata, pasar yang bersifat forward-looking sudah mencerminkan sentimen yang lebih optimis.

“Sentimen terhadap ekonomi domestik selama tiga kuartal pertama 2025 cenderung penuh ketidakpastian, tetapi pada November ini mulai menunjukkan optimisme terhadap kebijakan pemerintah yang pro-growth,” ujarnya.

Dari sisi moneter, Ezra melihat bahwa selisih antara tingkat inflasi dan suku bunga Bank Indonesia (BI) masih cukup lebar, sehingga memberi ruang bagi bank sentral untuk kembali menurunkan suku bunga pada tahun 2026.

Perkembangan Pasar Obligasi

Di pasar obligasi, perbaikan likuiditas perbankan, penurunan suku bunga deposito, serta imbal hasil SBN dinilai berpotensi meningkatkan permintaan terhadap Surat Berharga Negara (SBN). Dominasi investor domestik di pasar SBN dapat membantu meredam volatilitas akibat gejolak global atau keluarnya dana asing. Kondisi ini membuat preferensi investor bergeser ke instrumen berjangka menengah-panjang.

Prospek Pasar Saham

Di sisi lain, Ezra melihat bahwa valuasi pasar saham berada pada level yang menarik. Hal ini tercermin dari dividend yield yang tinggi dan tetap kompetitif dibandingkan dengan SBN.

“Untuk prospek reksa dana, dengan sentimen yang mulai berbalik positif, kami perkirakan pasar modal Indonesia akan mengalami pertumbuhan yang lebih baik ke depannya. Bagi investor yang mengedepankan diversifikasi dan pengelolaan aktif, reksa dana tetap menjadi pilihan utama,” katanya.

Proyeksi Ke depan

Ke depan, reksa dana pendapatan tetap dan pasar uang diperkirakan semakin diminati. Ekspektasi penurunan suku bunga The Fed dan BI dinilai dapat menekan yield obligasi serta memperkuat kinerja reksa dana berbasis obligasi. Sementara itu, reksa dana saham berpotensi tumbuh dari masuknya dana baru, terutama jika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) stabil dan ekonomi domestik mendukung sepanjang 2026.

Performa Indeks Reksa Dana

Data Invovesta Utama menunjukkan bahwa seluruh indeks reksa dana mencatat kenaikan. Indeks Reksa Dana Saham (IRDSH) naik 0,25 persen atau 8,32 persen dalam tiga bulan terakhir. Indeks Reksa Dana Pendapatan Tetap (IRDPT) menguat 0,03 persen dalam sehari atau 2,66 persen dalam tiga bulan terakhir. Sementara itu, Indeks Reksa Dana Campuran (IRDCP) meningkat 0,37 persen atau 6,41 persen dalam tiga bulan terakhir.

Kinerja MAMI

Kinerja tersebut turut meningkatkan dana kelolaan MAMI. Ezra menjelaskan bahwa total dana kelolaan MAMI per Oktober 2025 mencapai Rp116,8 triliun, terdiri dari dana kelolaan reksa dana sebesar Rp57,3 triliun dan dana kelolaan kontrak pengelolaan dana (KPD) sebesar Rp59,5 triliun.

MAMI disebut sebagai manajer investasi terbesar di Indonesia dengan pangsa pasar 12,3 persen dari 85 manajer investasi. Total asset under management (AUM) MAMI tumbuh sekitar 5 persen secara bulanan (month on month/MoM) atau 15,6 persen secara tahunan (year on year/YoY).

“Untuk pertumbuhan AUM reksa dana sekitar 8,6% MoM dan 29% YoY. Pertumbuhan AUM reksa dana hingga November 2025 masih dimotori reksa dana kelas pendapatan tetap yang tumbuh sekitar 38% YoY,” ujarnya.