Pemetaan Kondisi Psikologis Siswa Penyintas Gempa Bumi di Kabupaten Poso

Sejumlah siswa di Kabupaten Poso, yang menjadi korban gempa bumi pada 17 Agustus 2025 lalu, mengalami kondisi psikologis yang memerlukan perhatian serius. Hasil pemetaan oleh Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka menunjukkan gejala kecemasan dan ketegangan.

Pemetaan ini dilakukan pada September 2025 sebagai bagian dari langkah awal sebelum pelaksanaan Program Dukungan Psikososial yang berlangsung antara 19–26 November 2025 di Palu dan Kabupaten Poso. Program tersebut bertujuan untuk memberikan bantuan psikologis secara terstruktur bagi para penyintas, khususnya anak-anak.

Ketua Umum HIMPSI, Andik Matulessy, menjelaskan bahwa dari total 456 siswa yang mengikuti asesmen, sebanyak 316 siswa SD dan 119 siswa SMP menunjukkan gejala stres pascabencana. Hal ini menjadi dasar bagi HIMPSI dan Direktorat PKPLK Kemendikdasmen dalam merancang intervensi pemulihan trauma.

Program pemulihan yang digelar selama sepekan mencakup beberapa kegiatan penting, antara lain:
* Trauma healing untuk siswa PAUD hingga SMA
* Pelatihan psychological first aid bagi guru
* Integrated drill procedure untuk kesiapsiagaan bencana
* Pendampingan lanjutan bagi siswa yang menunjukkan gejala psikologis menetap

Selain itu, sebanyak 1.625 siswa dan 125 guru masuk dalam sasaran utama program dukungan psikososial tahun ini. Andik menyebut bahwa tidak semua penyintas membutuhkan layanan lanjutan karena resiliensi setiap individu berbeda. Namun, bagi siswa yang menunjukkan gejala berkelanjutan, HIMPSI siap menyediakan skema pendampingan rekonstruktif.

Pendekatan Komprehensif dalam Pemulihan Trauma

Program ini juga dilengkapi dengan berbagai aktivitas yang bertujuan untuk mempercepat proses pemulihan emosional. Salah satunya adalah pentas seni yang menjadi indikator pemulihan emosional. Selain itu, pemberdayaan sumber daya lokal juga dilakukan agar sekolah dapat melanjutkan pendampingan secara mandiri.

HIMPSI menegaskan bahwa pemetaan psikologis merupakan langkah krusial dalam memastikan penanganan pascabencana tidak hanya berfokus pada fisik, tetapi juga pemulihan mental penyintas, terutama anak-anak.

Langkah-Langkah yang Dilakukan dalam Program

Berikut adalah beberapa langkah yang dilakukan dalam program dukungan psikososial:
* Asesmen awal: Melibatkan 456 siswa dari 31 sekolah terdampak.
* Trauma healing: Dilakukan untuk siswa dari berbagai jenjang pendidikan.
* Pelatihan psychological first aid: Diberikan kepada guru untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam menangani situasi darurat.
* Integrated drill procedure: Untuk mempersiapkan siswa dan guru dalam menghadapi bencana.
* Pendampingan lanjutan: Dilakukan bagi siswa yang masih menunjukkan gejala psikologis.

Dalam program ini, HIMPSI bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memastikan bahwa semua siswa mendapatkan dukungan yang dibutuhkan. Dengan pendekatan komprehensif, diharapkan para penyintas dapat pulih secara mental dan emosional.

Pentingnya Pemetaan Psikologis

Pemetaan psikologis menjadi langkah penting dalam menentukan kebutuhan masyarakat pasca-bencana. Dengan memahami kondisi psikologis siswa, pihak terkait dapat merancang intervensi yang tepat dan efektif. Hal ini juga membantu dalam memastikan bahwa pemulihan tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga pada kesejahteraan mental.

Dengan adanya program seperti ini, diharapkan dapat memberikan dampak positif jangka panjang bagi para penyintas, khususnya anak-anak yang menjadi korban gempa bumi.