Masalah Limbah di Teluk Jakarta

Limbah menjadi masalah yang belum terpecahkan dan terus mencemari laut di Teluk Jakarta. Keberadaan limbah ini secara perlahan meruntuhkan mata pencarian nelayan di Pesisir Jakarta. Salah satu nelayan, Salim (48), berharap pemerintah bisa bersikap tegas untuk mengatasi persoalan limbah ini.

“Limbah-limbah PT atau pabrik. Ini tahun 2001-2002 udah mulai begini, minta ketegasan lah, jangan cuma omon-omon aja pemerintah apalagi Menteri KKP cuma bisa bicara tanpa ada buktinya,” kata Salim saat diwawancarai Suratkabar.id di lokasi, Rabu (12/11/2025).

Salim bilang, pencemaran limbah di Teluk Jakarta sudah terjadi sejak tahun 2000-an. Namun, hampir 25 tahun lamanya, persoalan limbah di lokasi ini belum mampu dibereskan oleh pemerintah. Padahal, jika tidak ada limbah, Salim menilai, nelayan yang ada di Pesisir Jakarta bisa makmur dengan tangkapan ikannya.

“Pemerintah mengurusilah masalah limbah, bagaimana caranya agar jangan dibuang ke laut,” sambung dia.

Limbah 4 Warna

Sementara nelayan lain bernama Zaenal (41) mengaku sudah lelah berharap kepada pemerintah untuk bisa mengatasi persoalan limbah di laut. Padahal, kondisi limbah di Teluk Jakarta saat ini semakin parah dan memperihatinkan.

“Kondisi limbah di teluk Jakarta semakin parah, air itu kalau limbah pada keluar entah dari pabrik apa itu air jadi empat warna, hijau, biru, putih, dan merah teh,” kata Zaenal.

Limbah empat warna tersebut Zaenal sering temukan dari kawasan Cilincing hingga menuju Marunda. Menurut dia, limbah berwarna putih lah yang paling bau menyengat dan menganggu pernapasan nelayan. Limbah-limbah itu yang membuat nelayan kini kesulitan untuk mendapatkan ikan di Pesisir Jakarta.

“Itu bikin ikan susah didapatkan, karena tadinya mau masuk enggak jadi dan menjauh,” jelas dia. Jika susah mendapatkan ikan di Teluk Jakarta, Zaenal dan nelayan lain terpaksa harus melaut lebih jauh lagi.

Bukan Hanya Limbah Pabrik

Pakar Lingkungan dari Universitas Indonesia Mahawan Karuniasa menyebutkan, limbah yang berada di Teluk Jakarta bukan hanya berasal dari pabrik industri saja. Sebab, 13 sungai yang ada di Jakarta semua airnya bermuara di Teluk Jakarta. Sedangkan air sungai tersebut sudah banyak yang tercemar berbagai macam limbah.

“Jadi di Jakarta banyak sungai, ada 13 sungai yang bermuara di sana, banyak penelitian yang menunjukan bahwa pencemaran sungai disebabkan karena pembuangan limbah yang sembarangan, limbah industri dan limbah rumah tangga, termasuk sampah rumah tangga,” jelas Mahawan.

Dengan begitu, banyak penelitian menunjukan bahwa terjadi akumulasi pencemaran di sungai yang kemudian terbawa ke Teluk Jakarta. “Oleh karena itu, tidak bisa dikatakan industri yang membuang sampah atau limbah sembarangan di laut Teluk Jakarta menjadi penyebab utama terjadinya pencemaran,” ucap Mahawan.

Pabrik yang membuang limbah di laut tersebut dinilai sebagai bagian yang memperburuk pencemaran.

Ikan Tercemar

Keberadaan limbah memang dinilai berpotensi merusak ekosistem laut sehingga populasi ikan akan berkurang dan membuat nelayan sulit mendapatkan hasil tangkapan. Selain itu, keberadaan limbah di Teluk Jakarta juga memengaruhi kualitas ikan yang hidup di dalamnya.

“Dampak lain, ilmu kesehatan manusia, jadi bukan cuma ikannya yang berkurang ditangkap nelayan, tapi kualitas ikannya sebagai makanan laut berbahaya karena mengandung zat-zat pencemar di dalamnya,” ungkap Mahawan.

Jika ikan yang sudah tercemar tersebut dikonsumsi, maka akan berdampak buruk bagi kesehatan manusia terutama pencernaan. “Kontak langsung juga demikian, misal nelayan yang sering melakukan kontak dengan air laut tercemar limbah maka berpotensi terganggu kesehatan kulitnya,” jelas dia.

Pemerintah Belum Maksimal

Mahawan menilai, sejauh ini pemerintah belum maksimal dalam menangani limbah yang ada di Teluk Jakarta. Bahkan, reklamasi yang sempat digagas juga tidak dapat menyelesaikan pencemaran limbah. Belum dapat teratasinya limbah di Teluk Jakarta disebabkan karena lemahnya pendekatan hukum.

“Lemahnya pendekatan hukum, di sepanjang pantai itu banyak tangki-tangki yang membuang limbah di sana itu masih terjadi dan sepanjang sungai yang bermuara di Teluk Jakarta,” ujar Mahawan. Oleh karena itu, diperlukannya penegakan hukum yang tegas sehingga pembuangan limbah di Teluk Jakarta tidak dilakukan sembarangan.

“Jadi, saya kira perlu peningkatan penegakan hukum, solusinya penegakan hukum harus ditegakan terkait pembuangan limbah sampah dan zat pencemar lain ke sungai harus ditingkatkan,” tegas dia.

Cuaca Buruk

Selain limbah, dalam satu minggu belakangan, nelayan juga kesulitan melaut karena cuaca buruk. “Iya, benar lagi cuaca buruk ada dua mingguan,” kata Zaenal. Ketika cuaca buruk terjadi, sebagian besar nelayan memilih untuk tidak melaut karena risiko bahayanya yang tinggi. Namun, Zaenal tetap memilih untuk melaut demi menghidupi keluarganya di rumah.

“Jalan, soalnya emang kerjaannya cuma kayak gini nelayan siap menghantam deburan ombak meski risikonya tinggi,” tutur dia. Dalam kondisi cuaca buruk, pendapatan melaut Zaenal juga menurun atau tak sebanyak biasanya. Jika cuaca cerah Zaenal bisa mendapatkan uang sekitar Rp 800.000 per hari, namun saat ini pendapatannya hanya sekitar Rp 300.000 – Rp 400.000 per hari.

Alih Profesi

Cuaca buruk juga membuat nelayan lain bernama Bernis (53) juga mengaku merana karena tak bisa melaut. “Kalau sukanya waktu kita ada penghasilan pasti, kalau dukanya musim barat begini kita enggak bisa melaut, kalau melaut bahaya,” tutur Bernis. Meski begitu, Bernis tak mau menyerah dengan keadaan. Ia memilih untuk beralih profesi sementara waktu ketika cuaca buruk.

“Kalau masalah dapat duit tergantung kita, kita enggak melaut maka kita harus pintar-pintar ibaratnya mencari yang lain, entah kuli bangunan terserah lah yang penting dapat penghasilan,” tegas dia. Jika tak mencari pekerjaan lain, maka Bernis tidak bisa menghidupi keluarganya di rumah. Sebab, cuaca buruk tidak terjadi sebentar. Di tahun ini diprediksi sampai akhir Februari 2026.

Potensi Angin Kencang

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) membenarkan adanya cuaca buruk yang disebabkan karena angin kencang. “Benar terdapat potensi peningkatan kecepatan angin mencapai 15 – 20 knot serta tinggi gelombang yang berkisar antara 1 – 1.5 meter di Perairan Utara Jakarta sehingga nelayan perlu mewaspadai hal tersebut,” kata Direktur Meteorologi BMKG Eko Prasetyo kepada Suratkabar.id, Selasa.

Cuaca buruk diprediksi terjadi di DKI Jakarta hingga satu pekan ke depan. Angin kencang dan gelombang tinggi juga berpotensi datangkan banjir rob di Pesisir Jakarta. Banjir rob tersebut berdampak terhadap aktivitas dan hasil tangkapan nelayan.

“Saat terjadi pasang maksimum, akses menuju pelabuhan atau tempat tambat perahu seringkali tergenang, sehingga aktivitas melaut menjadi terbatas,” tutur Eko. Air laut yang sedang tinggi juga meningkatkan risiko keselamatan di laut, sehingga sangat bahaya untuk nelayan.

Selain itu, kata Eko, genangan rob dapat merusak fasilitas pesisir seperti perahu, jaring, atau tempat pelelangan ikan. “Akibatnya, frekuensi melaut berkurang dan secara umum berpengaruh pada penurunan hasil tangkapan nelayan selama periode rob berlangsung,” ungkap dia.

Imbauan untuk Nelayan

Di tengah kondisi cuaca buruk, BMKG mengimbau agar nelayan dan masyarakat Pesisir Jakarta bisa selalu waspada terhadap potensi cuaca ekstrem dan gelombang tinggi yang dapat terjadi beberapa hari ke depan. Masyarakat diminta untuk selalu memantau pembaruan informasi dan peringatan dini cuaca buruk dari BMKG yang bisa dilihat di situs resminya dan juga Instagram @infobmkg.

Lalu, BMKG juga mengingatkan agar para nelayan terus melakukan komunikasi antar sesama, terutama ketika melaut. “BMKG juga mengingatkan pentingnya komunikasi antar nelayan dan koordinasi dengan pihak pelabuhan atau instansi terkait untuk memastikan kegiatan melaut tetap aman dan terkendali,” tutur Eko.