Masalah di Uji Coba Operasional RDF Rorotan, Warga Protes dan DPRD DKI Minta Evaluasi

Uji coba operasional Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan menghadapi berbagai kendala yang memicu protes dari warga sekitar. Salah satu keluhan utama adalah munculnya bau tidak sedap yang disebabkan oleh proses pengangkutan sampah menuju fasilitas RDF. Hal ini membuat Komisi D DPRD DKI Jakarta memutuskan untuk menyarankan penghentian sementara uji coba operasional agar dapat dilakukan evaluasi lebih lanjut.

Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Yuke Yurike, menyampaikan bahwa keputusan ini diambil setelah melakukan rapat kerja bersama Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta. Ia menekankan bahwa lebih baik menghentikan sementara operasional daripada terus beroperasi namun menimbulkan masalah baru.

“Kita tetap beranggapan lebih baik berhenti sejenak untuk evaluasi daripada memaksakan beroperasi tapi menimbulkan masalah baru,” ujar Yuke dalam pernyataannya.

Berdasarkan penjelasan dari Dinas LH DKI Jakarta, sumber bau yang dikeluhkan masyarakat ternyata berasal dari proses pengangkutan sampah menuju fasilitas RDF. Banyak truk compactor yang digunakan mengalami kebocoran, sehingga air lindi dari sampah basah mencemari jalur pengiriman.

“Diduga, penyebab utamanya bukan dari proses di dalam RDF, melainkan dari transportasi pengangkut sampah,” jelas Yuke.

Evaluasi Menyeluruh Diperlukan

Yuke menambahkan bahwa penghentian sementara uji coba operasional bertujuan agar Dinas LH dapat melakukan evaluasi secara menyeluruh. Evaluasi tersebut akan mencakup berbagai aspek, seperti kondisi kendaraan angkut sampah, sistem IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah), dan fasilitas pengolahan sampah.

Menurut Yuke, kendala operasional ini wajar mengingat RDF Rorotan merupakan proyek baru yang masih membutuhkan penyesuaian. Ia berharap penundaan ini tidak berlangsung terlalu lama dan berharap Dinas terkait serta pihak KSO (Kerja Sama Operasional) segera memperbaiki semua kendala agar RDF bisa kembali beroperasi secara optimal.

Penundaan uji coba operasional ini ditargetkan berlangsung selama dua pekan. Setelah itu, operasional akan dilanjutkan secara bertahap. Namun, Yuke menegaskan bahwa prosesnya harus dilakukan dengan hati-hati dan bertahap.

“Tapi kami minta agar prosesnya dilakukan bertahap dan hati-hati, pastikan kendaraan pengangkut, sistem IPAL, dan seluruh fasilitas benar-benar siap,” ujarnya.

Target Pengolahan Sampah dan Operasional Penuh

Dengan penundaan ini, target pengolahan 2.500 ton sampah per hari diharapkan dapat dicapai tanpa kendala pada Desember 2025. Tahun depan, yaitu 2026, RDF Rorotan diharapkan benar-benar dapat beroperasi penuh.

“Jadi walaupun ada sedikit keterlambatan, harapannya RDF bisa segera berfungsi penuh dan mengurangi ketergantungan Jakarta terhadap TPA Bantar Gebang,” tegas Yuke.

Langkah-Langkah Perbaikan yang Diperlukan

Untuk memastikan keberhasilan operasional RDF Rorotan, beberapa langkah perlu dilakukan:

  • Penggantian kendaraan angkut sampah: Truk yang digunakan harus dalam kondisi prima untuk menghindari kebocoran dan pencemaran.
  • Peningkatan sistem IPAL: Sistem pengolahan air limbah harus diperkuat agar dapat menangani air lindi dari sampah basah.
  • Pembenahan fasilitas pengolahan sampah: Seluruh fasilitas pengolahan harus diperiksa dan diperbaiki agar sesuai standar operasional.

Dengan langkah-langkah ini, diharapkan RDF Rorotan dapat beroperasi secara efisien dan berkontribusi dalam pengurangan limbah di Jakarta.