Bacaan Liturgi Hari Kamis, 13 November 2025
Pada hari Kamis, 13 November 2025, umat Katolik akan merayakan pesta fakultatif Santo Stanislaus Kostka, seorang pengaku iman. Pada hari ini, warna liturgi yang digunakan adalah hijau, yang melambangkan harapan dan kehidupan. Bacaan-bacaan liturgi yang disiapkan mencakup beberapa ayat dari Kitab Kebijaksanaan, Mazmur, Injil Lukas, dan Bacaan dari Kitab Yehezkiel.
Bacaan Pertama: Kitab Kebijaksanaan 7:22–8:1
Kitab Kebijaksanaan menggambarkan kebijaksanaan sebagai sesuatu yang sangat mulia dan tak terbatas. Ia memiliki sifat-sifat seperti roh yang arif dan kudus, tunggal namun majemuk, halus, mudah bergerak, jernih, dan tidak bernoda. Kebijaksanaan juga dijelaskan sebagai pernafasan kekuatan Allah, pancaran murni dari kemuliaan Yang Mahakuasa. Tidak ada sesuatu pun yang bernoda masuk ke dalamnya. Kebijaksanaan juga merupakan pantulan cahaya kekal dan cermin tak bernoda dari kegiatan Allah. Dengan kuat ia meluas dari ujung yang satu ke ujung yang lain, dan halus memerintah segala sesuatu.
Mazmur Tanggapan: Mazmur 119:89,90,130,135,175
Mazmur ini menyampaikan pesan tentang kesetiaan Tuhan. Firman-Nya tetap teguh di sorga, dan kesetiaan-Nya dari keturunan ke keturunan. Ketika firman-firman-Nya tersingkap, mereka memberi terang dan pengertian kepada orang-orang bodoh. Tuhan diminta untuk menyinari hamba-Nya dengan wajah-Nya dan mengajarkan ketetapan-ketetapan-Nya. Jiwanya dimohon hidup supaya memuji-muji Tuhan, dan hukum-hukum-Nya menolongnya.
Injil: Lukas 17:20–25
Yesus menjawab pertanyaan orang-orang Farisi tentang kapan Kerajaan Allah akan datang. Ia menjelaskan bahwa Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, dan orang tidak dapat mengatakan “Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana!” Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu. Yesus juga mengingatkan murid-murid-Nya bahwa suatu saat mereka ingin melihat hari-hari Anak Manusia, tetapi mereka tidak akan melihatnya. Mereka akan mendengar berita-berita palsu, tetapi jangan pergi ke situ atau ikut. Kilat memancar dari ujung langit ke ujung langit, demikian juga kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya. Namun, Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh angkatan ini.
Bacaan dari Kitab Yehezkiel 12:1–16
Tuhan memerintahkan Yehezkiel untuk menjadi lambang bagi kaum Israel. Ia diminta membawa barang-barang seorang buangan dan berjalan seperti seorang buangan pada siang hari di hadapan mata mereka. Pada malam hari, ia keluar seperti seorang yang harus keluar dan pergi ke pembuangan. Di hadapan mata mereka, ia membuat lobang di tembok dan keluar. Barang-barangnya ditaruh ke atas bahunya, dan ia menutupi mukanya agar tidak melihat tanah. Tuhan menjelaskan bahwa raja Yerusalem dan seluruh kaum Israel yang tinggal di sana akan mengalami nasib serupa. Raja akan pergi ke luar, membuat lobang di tembok, dan menutupi mukanya. Tuhan akan memasang jaring-Nya untuk menangkap dia dan membawanya ke Babel, tempat ia akan mati. Semua yang di sekitarnya akan dihamburkan ke semua mata angin, dan Tuhan akan menghunus pedang dari belakang mereka. Mereka akan mengetahui bahwa Ia adalah Tuhan ketika mereka diserakkan di antara bangsa-bangsa dan dihamburkan ke semua negeri. Namun, sedikit dari mereka yang luput dari pedang, kelaparan, dan sampar akan menceritakan perbuatan-perbuatan mereka yang keji di antara bangsa-bangsa.
Teladan Santo Stanislaus Kostka
Stanislaus Kostka berasal dari Polandia. Bersama kakaknya Paul, ia dikirim belajar oleh orangtuanya di sebuah kolese Yesuit di Wina, Austria. Pada usia 14 tahun, Stanislaus dikenal sebagai pemuda yang periang, polos, dan peramah. Namun, ia sering menjadi korban perlakuan kasar dari kakaknya Paul. Suatu hari, Stanislaus jatuh sakit sangat kritis. Saat itu, tidak ada seorang imam yang bisa datang karena mereka tinggal di rumah seorang Protestan. Stanislaus berdoa kepada Santa Barbara, dan akhirnya diberi komuni kudus. Beberapa hari kemudian, Santa Maria dengan Putera-Nya memasuki kamarnya dan menyembuhkannya.
Setelah sembuh, Stanislaus bertekad masuk Serikat Yesus. Untuk mewujudkan tekadnya, ia melarikan diri ke Roma dengan berjalan kaki. Di sana, ia diterima oleh Santo Petrus Kanisius setelah membuktikan kesungguhannya. Stanislaus menjalani masa novisiatnya dengan sangat setia selama sepuluh bulan. Ia meninggal dunia pada tanggal 15 Agustus 1868, tepat pada Hari Raya Maria Diangkat Ke Surga. Setelah wafatnya, banyak orang cacat sembuh karena pengantaraannya. Mujizat terbesar adalah perubahan hidup kakaknya Paul, yang akhirnya menjadi orang kudus.

Tinggalkan Balasan