Penurunan Performa Napoli dan Isyarat Antonio Conte untuk Mundur
Napoli, yang dikenal sebagai salah satu tim terkuat di Liga Italia, kini tengah menghadapi tantangan besar dalam performanya. Setelah kekalahan dari Bologna pada Minggu (9/11/2025), klub berjuluk I Partenopei tersebut semakin menunjukkan inkonsistensi yang memprihatinkan. Kekalahan 0-2 ini menjadi bagian dari rekor buruk yang dialami oleh Napoli dalam beberapa pertandingan terakhir.
Pada pertandingan melawan Bologna, Napoli kalah karena gol yang dicetak oleh Thijs Dallinga dan Jhon Lucumi. Hasil ini memperpanjang rentetan hasil negatif yang dialami oleh tim asuhan Antonio Conte. Dalam tiga pertandingan terakhirnya di segala ajang, Napoli hanya mampu meraih dua hasil imbang dan satu kekalahan. Hal ini membuat mereka kini memiliki lima kekalahan dari total 15 pertandingan musim ini.
Antonio Conte, pelatih Napoli, mengakui bahwa dirinya khawatir dengan penampilan timnya. Ia menyebutkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam skuad yang ia latih. “Saya khawatir, tidak banyak yang bisa dikatakan. Tim yang dipuji karena pemain kuncinya kalah dalam lima pertandingan. Ada yang tidak beres,” ujar Conte.
Kekhawatiran Conte semakin meningkat setelah ia memberikan isyarat mundur dari jabatannya. Menurutnya, energi yang sebelumnya membawa Napoli meraih scudetto musim lalu kini tidak lagi terlihat di musim ini. “Tahun lalu kami mencapai sesuatu yang benar-benar luar biasa, tahun ini kami bekerja keras. Tapi kita harus bertanya pada diri sendiri bagaimana caranya, apakah kita melakukannya dengan keinginan yang sama seperti tahun lalu atau hanya menikmati momen tersebut,” tambahnya.
Conte juga meminta maaf atas hasil buruk yang diraih oleh anak asuhnya. Ia menyatakan bahwa energi positif yang sebelumnya ada kini telah berubah. “Energinya jelas berubah, tidak ada energi positif seperti tahun lalu. Para pemain tahu persis apa yang saya rasakan dan saya minta maaf saya tidak bisa mengubahnya,” katanya.
Isyarat mundur dari Conte ini membuat banyak orang mengaitkannya dengan sindrom musim kedua. Sindrom ini sering kali dialami oleh pelatih yang sukses di musim pertama tetapi gagal mempertahankan performa yang sama di musim kedua.
Sindrom ini pertama kali muncul saat Conte memimpin Chelsea pada musim 2017-2018. Meskipun berhasil membawa The Blues juara di musim 2016-2017, performa tim menurun di musim kedua hingga finis di luar empat besar. Meski sempat memperpanjang kontrak, Conte akhirnya dipecat pada akhir musim 2017-2018.
Sindrom ini kembali muncul ketika Conte menukangi Tottenham Hotspur pada musim 2022-2023. Setelah membawa Spurs finis empat besar di musim 2021-2022, timnya mengalami penurunan performa sejak Oktober 2022 hingga Maret 2023. Akibatnya, Conte dipecat dan digantikan oleh Cristian Stellini dan Ryan Mason.
Dengan situasi yang sedang dialami Napoli, banyak pihak mulai memprediksi bahwa Conte mungkin akan mengambil langkah yang sama seperti di masa lalu. Namun, sampai saat ini, belum ada pengumuman resmi dari klub mengenai masa depan pelatih berusia 56 tahun ini.

Tinggalkan Balasan