Ledakan di Masjid SMAN 72 Jakarta: Penemuan Senjata dan Keterkaitan dengan Teroris

Pada Jumat (7/11/2025), sebuah ledakan terjadi di Masjid SMAN 72 Jakarta yang menimbulkan duka dan pertanyaan besar bagi masyarakat. Insiden ini diduga melibatkan seorang siswa kelas XII SMAN 72 Jakarta, yang dikenal dengan inisial FN. Dalam peristiwa tersebut, pelaku juga menjadi korban dari ledakan yang terjadi.

Di lokasi kejadian, polisi menemukan benda menyerupai senjata laras panjang yang ditemukan dekat terduga pelaku yang terkapar. Benda tersebut memicu spekulasi mengenai kemungkinan keterlibatan ideologi ekstrem. Di dalam senjata tersebut, terdapat tulisan nama-nama teroris, termasuk Luca Traini, yang menjadi sorotan publik.

Siapa Luca Traini?

Luca Traini adalah seorang teroris asal Italia yang dikenal karena aksi penembakan bermotif rasial pada tahun 2018. Ia dikenal sebagai seorang militan sayap kanan. Pada tanggal 3 Februari 2018, Traini melakukan penembakan drive-by menggunakan pistol semi-otomatis 9mm Glock 17 Gen 3 kepada enam migran Afrika di kota Macerata, Marche. Selain itu, ia juga menargetkan markas lokal Partai Demokrat Italia.

Traini membawa bendera Italia dan melakukan penghormatan fasis, mirip dengan tindakan Adolf Hitler. Aksi ini dilakukan sebagai balas dendam atas pembunuhan Pamela Mastropietro, seorang gadis lokal berusia 18 tahun yang tubuhnya termutilasi. Pelaku pembunuhan Pamela adalah Innocent Oseghale, seorang warga negara Nigeria yang saat itu sedang mencari suaka atau imigran.

Setelah dijatuhi hukuman penjara selama 12 tahun, Traini dibebaskan dari penjara pada 3 Maret 2025 lalu dan ditempatkan di bawah perawatan layanan sosial. Ia menyatakan bahwa aksinya diperburuk oleh kebencian rasial.

Soal Senjata Terduga Pelaku

Penemuan senjata tersebut menimbulkan spekulasi bahwa terduga pelaku terinspirasi dari ideologi ekstrem. Namun, hasil pemeriksaan awal menyebutkan bahwa senjata tersebut bukan senjata api sungguhan, melainkan replika atau senjata mainan.

Polisi membenarkan temuan benda menyerupai senjata laras panjang di lokasi ledakan Masjid SMA Negeri 72 Jakarta. Senjata tersebut ditemukan tergeletak di dekat salah satu korban yang terkapar, memicu pertanyaan publik soal keterkaitannya dengan insiden tersebut.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto menyatakan bahwa pihaknya masih mendalami jenis dan asal senjata tersebut. “Kita belum bisa memastikan rakitan atau pabrikan, tapi benar ada benda seperti senjata,” ujarnya.

Dari gambar yang beredar di media sosial, tampak dua benda mirip senjata laras panjang dan laras pendek berwarna hitam tergeletak di lantai. Di dekatnya juga terlihat pelindung tubuh (body protector), yang menambah spekulasi publik soal kemungkinan keterlibatan pelaku bersenjata.

Namun, Wakil Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Lodewijk F. Paulus menyatakan bahwa benda tersebut bukan senjata api sungguhan. “Setelah kami cek, itu senjata mainan,” kata Lodewijk saat meninjau lokasi.

Sosok FN, Terduga Pelaku yang Disebut Jarang Sosialisasi

Sosok FN, terduga pelaku peledakan masjid SMAN 72 Jakarta di Kelapa Gading, Jakarta Utara, dikenal sebagai pribadi yang tertutup. Hal ini disampaikan Danny Rumondor, ketua RT di lingkungan tempat tinggal FN di sebuah kompleks di wilayah Cilincing, Jakarta Utara.

Danny mengatakan, FN sudah tinggal sekitar 7 tahun bersama ayahnya di salah satu rumah di kompleks tersebut. Selama ini, FN dikenal sebagai sosok tertutup dan tidak pernah bersosialisasi dengan warga. “Sama warga sini juga benar-benar nggak ada sosialisasi. Tetangga sebelah rumah pun jarang lihat, sangat jarang, kecuali dia pergi sekolah ya, dibonceng bapaknya. Dia tidak ada pernah join di sini bermain sama-sama anak di sini, nggak pernah,” kata Danny saat ditemui di lokasi, Sabtu (8/11/2025).

FN sempat bersekolah di kawasan Sukapura, Jakarta Utara, saat duduk di bangku SMP. Saat itu, pelaku masih sering bergaul dan bermain bersama teman-temannya di sekitar komplek. Namun, setelah pindah ke jenjang SMA dan mengikuti ayahnya tinggal di Kelapa Gading, perilakunya berubah menjadi lebih tertutup.

Bahkan dengan pemilik rumah pun, FN tidak pernah menyapa. “Katanya sejak SMA dia lebih banyak di kamar, jarang keluar rumah, bahkan sama orang rumah juga jarang ngobrol,” kata Danny.

Diduga Korban Bullying

Terdapat kesaksian bahwa FN diduga menjadi korban bullying di sekolahnya. Hal itu menurut kesaksian ZA, siswa kelas XI SMAN 72 kepada TribunJakarta, mengatakan terduga pelaku dikenal sebagai sosok yang kerap dibully. Ia selalu terlihat sendiri, dengan gayanya yang khas memakai jas putih.

“Korban dibully di sekolah, dia selalu sendiri ke mana-mana.” “Terus dia sering pakai jas putih, ya gitu lah,” kata ZA.

FN diduga merakit bom secara mandiri dan diledakkan untuk membalas dendam terhadap para pembullynya. “Kaya pengin balas dendam ke korban-korbannya, kaya pengin ke pembully tapi malah ke semuanya,” kata ZA.

ZA juga menjelaskan, ledakan bukan hanya sekali, tapi tiga kali di lokasi berbeda. “Katanya dia tuh ngerakit bomnya sendiri, terus sudah di-timer-in di tiga daerah, yang pertama di musala, kedua di kantin, ketiga di tempat duduk-duduk anak-anaklah,” kata ZA.

ZA sendiri merasakan langsung ledakan yang diduga berasal dari bom rakitan itu. Ada tiga kali ledakan di lokasi berbeda, berawal dari musala. Pertama pas saya di musala itu sekali. Pas saya lari-lari mencar gitu ada yang kedua, ada yang ketiga,” ujarnya.

ZA juga mengonfirmasi bahwa foto yang beredar dengan posisi tergeletak bersimbah darah dengan senjata di dekatnya, adalah terduga pelaku. “Itu terduga pelaku,” kata ZA. “Itu dia di sebelah belakang kantin,” lanjut kata ZA menjelaskan latar lokasi foto terduga pelaku.