Masalah Biaya Sekolah Zaman Now yang Mengkhawatirkan

Banyak orang berpikir bahwa perbedaan sekolah di masa lalu hanya terletak pada seragam dan gadget. Namun, ternyata ada satu masalah klasik yang kini semakin meningkat: urusan uang. Bukan hanya biaya SPP, tetapi sekarang muncul istilah “biaya wajib” untuk kegiatan yang membuat para orang tua merasa kewalahan.

Seorang ibu mengeluhkan pengalaman anaknya yang bersekolah di salah satu SMP Negeri favorit di Garut. Menurutnya, sekolah memaksakan pembayaran untuk kegiatan tertentu. Bahkan, anak yang tidak ikut karena keterbatasan ekonomi tetap diminta membayar dengan jumlah yang sama seperti anak-anak lain yang mengikuti kegiatan tersebut. Ia menyampaikan, “Anak saya tidak ikut kegiatan karena kami tidak punya biaya ekstra. Tapi, tetap aja diminta bayar dengan jumlah yang sama kayak anak-anak yang ikut. Ini kan jadi beban ganda.”

Fenomena yang Terjadi di Berbagai Tingkatan Sekolah

Fenomena ini tidak hanya terjadi di SMP, tapi juga dari PAUD hingga SMA. Ada banyak ibu yang mengeluhkan pengalaman serupa. Misalnya, seorang ibu menceritakan bahwa anaknya tidak mengikuti manasik haji saat duduk di PAUD. Ia bermaksud agar anaknya tidak mengikuti kegiatan tersebut karena ingin sekolah dua tahun agar tidak terlalu banyak biaya. Namun, pada hari H, anak yang tidak ikut malah disuruh bayar.

Kasus serupa juga terjadi pada kegiatan perkemahan atau perjusami (Perkemahan Jumat Sabtu Minggu). Dulu, siswa yang tidak ikut biasanya hanya diberi tugas pengganti atau laporan. Sekarang? Satu kata: bayar.

Perbedaan Mentalitas Antara Zaman Dulu dan Sekarang

Dulu, jika ada anak yang tidak bisa ikut kegiatan karena alasan finansial, pihak sekolah biasanya memberikan solusi. Entah itu dispensasi, tugas alternatif, atau bahkan dibiarkan tanpa konsekuensi finansial. Fokusnya adalah empati dan pengertian.

Namun, sekarang rasanya semua harus ikut dan yang tidak ikut dianggap menyalahi aturan. Ada tekanan sosial yang membuat orang tua merasa khawatir. “Kalau tidak bayar, nanti anak saya tidak dapat nilai, atau malah dikucilkan,” ini menjadi ketakutan terbesar bagi banyak orang tua.

Apakah Ini Termasuk Pungli?

Secara regulasi, pungutan wajib di sekolah negeri diatur secara ketat. Kegiatan yang bersifat wajib dan dibiayai oleh orang tua harus melalui persetujuan Komite Sekolah dan memiliki dasar yang jelas. Jika sebuah kegiatan “wajib bayar” meski tidak diikuti, dan tidak melalui jalur komite yang transparan, ini bisa masuk kategori pungli.

Solusi Agar Tidak Jadi Korban

Untuk menghindari menjadi korban, beberapa langkah bisa dilakukan:

  • Cek Regulasi: Tanyakan dasar hukum dan peraturan sekolah tentang biaya tersebut. Minta Surat Keputusan (SK) dari Komite Sekolah.
  • Komunikasi ke Guru/Wali Kelas: Sampaikan kondisi ekonomi dengan baik. Sebagian besar guru sebenarnya memahami, tapi kadang tidak tahu kondisi di lapangan.
  • Adukan ke Komite Sekolah: Komite adalah perwakilan orang tua. Laporkan praktik ini. Jika didiamkan, eskalasi ke Dinas Pendidikan setempat.
  • Jangan Takut Diskriminasi: Jika anak memang tidak ikut dan sudah ada komunikasi, sekolah tidak berhak memberikan sanksi akademik atau sosial. Ini dilindungi peraturan.

Intinya, sekolah itu tempat menuntut ilmu, bukan tempat menuntut biaya. Perbedaan zaman memang tidak bisa dihindari, tapi prinsip keadilan dan empati harusnya tetap sama, bahkan lebih kuat. Jangan sampai pendidikan yang mulia ternoda oleh praktik “wajib bayar” yang tidak jelas dasarnya.