Pengembangan Kawasan Berorientasi Transit (TOD) di Jakarta

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) saat ini sedang mempersiapkan pengembangan kawasan berorientasi transit atau transit-oriented development (TOD). Proses ini masuk dalam tahap perencanaan studi, yang dikenal sebagai detail engineering design (DED). Direktur Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda Kemenhub, Risal Wasal, menjelaskan bahwa desain untuk setiap lokasi TOD telah memasuki tahap pengerjaan. Target penyelesaian adalah pada tahun 2027 mendatang.

“Pemerintah Daerah DKI Jakarta yang menangani proyek ini, dan saya rasa selesai pada 2027,” ujarnya saat diwawancarai di Hotel Borobudur, Rabu (5/11/2025).

Lokasi pengembangan TOD terdiri dari tiga stasiun utama, yaitu Manggarai, Tanah Abang, dan Sudirman–BNI City–Karet. Setiap stasiun memiliki potensi pengembangan kawasan yang besar, termasuk integrasi dengan berbagai moda transportasi publik.

Investasi dan Rencana Pengembangan

Risal menyampaikan bahwa besaran nilai investasi masih menunggu hasil dari DED yang sedang dikerjakan oleh Pemda DKI. Namun, proyek ini akan mengintegrasikan empat moda kereta api, yakni Moda Raya Terpadu/Mass Rapid Transit (MRT), Lintas Raya Terpadu/Light Rail Transit (LRT), Kereta Rel Listrik (KRL), dan kereta bandara.

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah meninjau master plan TOD ketiga stasiun tersebut, pada Selasa (4/11). Ia menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat transportasi massal sebagai layanan publik yang efisien dan terjangkau.

“Kereta api memiliki peran penting dalam mendukung mobilitas rakyat serta menurunkan biaya ekonomi nasional, termasuk biaya mobilitas dan logistik,” ujarnya.

Konsep TOD sebagai Pusat Kehidupan Kota

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Bobby Rasyidin, menjelaskan bahwa konsep TOD disiapkan untuk menjadikan stasiun sebagai pusat kehidupan kota. Di dalamnya, masyarakat dapat melakukan aktivitas, bekerja, dan berinteraksi dalam satu kawasan yang terhubung dengan moda transportasi publik.

Rencana pengembangan ini juga merupakan bagian dari dukungan KAI terhadap program pemerintah dalam penyediaan tiga juta rumah rakyat.

Potensi Pengembangan di Stasiun Manggarai

Stasiun Manggarai memiliki potensi pengembangan kawasan seluas 64 hektare dengan Gross Floor Area (GFA) mencapai 1,4 juta meter persegi. Kawasan ini dirancang terintegrasi dengan lima moda transportasi publik, menyediakan ruang terbuka hijau seluas 5.000 meter persegi, serta berpotensi menghadirkan 21.000 unit hunian vertikal.

Dari sisi layanan, Stasiun Manggarai menjadi salah satu simpul mobilitas terbesar pelanggan Commuter Line Jabodetabek. Rata-rata jumlah pelanggan gate in dan gate out per hari mencapai 14.508 dan 13.768. Pada hari kerja, angka ini meningkat menjadi 15.777 pelanggan gate in dan 14.836 pelanggan gate out.

Selain itu, Stasiun Manggarai juga melayani pengguna Commuter Line Bandara Soekarno–Hatta dengan rata-rata 1.239 pelanggan gate in dan 1.350 pelanggan gate out setiap hari kerja.

Pengembangan di Stasiun Tanah Abang

Stasiun Tanah Abang memiliki potensi pengembangan kawasan seluas 77,5 hektare dengan tahap awal GFA sebesar 4,8 hektare. Kawasan ini dirancang sebagai green and mixed-use development yang terhubung dengan empat moda transportasi publik.

Saat ini, Stasiun Tanah Abang melayani rata-rata 45.104 pelanggan gate in dan 42.587 pelanggan gate out setiap hari. Pada hari kerja, jumlah ini meningkat menjadi 50.492 pelanggan gate in dan 47.366 pelanggan gate out.

Pengembangan di Stasiun Sudirman–BNI City–Karet

Kawasan Sudirman–BNI City–Karet juga masuk dalam master plan pengembangan TOD dengan potensi GFA sebesar 4,8 hektare pada tahap awal. Area ini akan menjadi sportainment & lifestyle hub yang menghubungkan lima stasiun sekaligus melalui jalur pedestrian river side walk, serta terintegrasi dengan LRT Jabodebek dan MRT.

Stasiun Sudirman saat ini melayani rata-rata 32.669 pelanggan Commuter Line gate in dan 33.249 pelanggan gate out per hari. Pada hari kerja, jumlah tersebut meningkat menjadi 39.232 pelanggan gate in dan 39.728 pelanggan gate out, mencerminkan tingginya mobilitas masyarakat di kawasan bisnis utama Jakarta.