Tren Penjualan Kawasan Industri di Indonesia
Di tengah berbagai tantangan ekonomi dan geopolitik, sejumlah perusahaan pengembang kawasan industri telah mencatatkan realisasi penjualan hingga September 2025. Dalam laporan yang dikeluarkan, terdapat beberapa data menarik yang menggambarkan kondisi pasar kawasan industri di Indonesia.
PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS)
Salah satu perusahaan yang mencatatkan capaian penjualan adalah PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS), yang merupakan pengembang kawasan modern terpadu Kota Deltamas. Hingga akhir September 2025, DMAS berhasil mencatatkan nilai marketing sales sebesar Rp 626,4 miliar. Capaian ini hanya mencakup 35% dari target tahunan sebesar Rp 1,81 triliun.
Penjualan tersebut berasal dari penjualan lahan industri seluas 18 hektar, dengan sektor Data Center dan FMCG menjadi kontributor utama. Selain itu, ada juga penjualan lahan komersial seluas 0,7 hektar serta penjualan hunian berupa rumah tapak.
Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan DMAS, Tondy Suwanto, menyatakan bahwa ketidakpastian ekonomi global, dinamika geopolitik, serta kebijakan tarif resiprokal internasional turut memengaruhi minat investasi dari investor asing. Selain itu, situasi politik di Indonesia pada kuartal ketiga tahun ini turut memperkuat sikap wait and see dari investor asing.
“Adanya kejadian luar biasa di Jakarta serta reshuffle kabinet pada pemerintahan di kuartal ketiga ini telah mengakibatkan penundaan transaksi investasi untuk sementara waktu,” ujar Tondy dalam keterangan resminya.
PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA)
Di sisi lain, PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) mencatatkan realisasi prapenjualan atau marketing sales sebesar Rp 2,92 triliun. Angka ini mencakup 83% dari target tahun 2025 sebesar Rp 3,5 triliun. Jika dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya, jumlah tersebut meningkat 22% secara year on year (YoY), yakni dari Rp 2,4 triliun.
Corporate Secretary KIJA, Muljadi Suganda, menjelaskan bahwa pertumbuhan ini menunjukkan minat investor dan permintaan lahan industri yang tetap kuat, baik di Cikarang maupun Kendal. Penjualan lahan terbesar disumbang oleh kawasan industri Kendal, Jawa Tengah, dengan capaian sebesar Rp 2,02 triliun. Ini didapat dari penjualan lahan industri kepada perusahaan di sektor ban, bahan bangunan, dan furnitur.
Sementara itu, penjualan Rp 896 miliar didapat dari lahan Cikarang, Jawa Barat. Jumlah tersebut merupakan kombinasi pendapatan dari prapenjualan lahan dan bangunan industri, properti residensial, dan komersial, khususnya dari sektor data center dan personal care.
Menurut Muljadi, faktor pendorong kenaikan tersebut antara lain stabilitas makroekonomi domestik dan posisi strategis kawasan industri Jababeka. Selain itu, status kawasan Kendal sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) turut mendukung pertumbuhan tersebut.
Upaya Peningkatan Prapenjualan
Untuk mendongkrak prapenjualan kawasan industri, KIJA akan terus fokus mengembangkan infrastruktur, peningkatan layanan kawasan, dan promosi investasi terarah. Manajemen optimistis dapat mencapai target marketing sales Rp 3,5 triliun seiring berlanjutnya permintaan lahan industri yang kuat.
Di sisi lain, DMAS juga akan mengupayakan layanan terbaik bagi konsumen dengan telah beroperasinya Security, Fire, and Command Center sebagai bentuk inovasi di bidang digital. Perseroan juga terus meningkatkan fasilitas infrastruktur dan kemudahan akses pada Kota Deltamas untuk mendorong kinerjanya.
“Penambahan akses tol baru Jakarta-Cikampek (Japek) II tepatnya di Km 31, adalah upaya perwujudan Kota Deltamas sebagai sebuah kawasan terpadu modern ramah lingkungan dan sebagai pusat aktivitas regional di timur Jakarta,” katanya.
Optimisme Bisnis Kawasan Industri
Demi memastikan stabilitas bisnis kawasan industri, Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI), Akhmad Maruf, optimistis bahwa bisnis kawasan industri akan kembali stabil pada tahun 2026. Hal ini didukung oleh beberapa faktor.
Pertama, munculnya gelombang investasi data center dan teknologi kecerdasan buatan. Hal ini menandai perubahan besar pada bisnis kawasan industri yang tak lagi hanya menampung pabrik, melainkan juga pusat data dan fasilitas digital berteknologi tinggi.
Kedua, industri makanan-minuman, otomotif, dan logistik. Naiknya konsumsi masyarakat dan berkembangnya e-commerce mendorong kebutuhan gudang, pusat distribusi, dan pabrik berskala menengah.
Ketiga, pemerintah juga terus mempercepat penyederhanaan perizinan. Bila proses perizinan cepat dan biaya rendah, maka minat investasi otomatis akan meningkat.
Tak lupa, tren energi hijau juga dilihat Akhmad semakin kuat. Menurutnya, banyak perusahaan internasional kini hanya ingin berinvestasi di kawasan yang memiliki akses ke energi terbarukan.
“Karena itu, kawasan industri yang mulai bertransformasi menjadi kawasan ramah lingkungan akan memiliki daya tarik lebih tinggi,” ujarnya.
Meski dihadapi perkara kontaminasi radionuklida Cesium 137 (Cs-137) di Kawasan Industri Modern Cikande, HKI yakin isu tersebut tak akan memengaruhi laju bisnis kawasan industri secara berkepanjangan. Terlebih, saat ini pemerintah sudah turun tangan.
Para pelaku bisnis juga tak perlu cemas, sebab reformasi kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang diatur melalui Permenperin No. 35 Tahun 2025 juga diperkirakan akan menjadi faktor positif tambahan.
“Perubahan kebijakan ini membawa pendekatan baru yang lebih murah, mudah, cepat, sehingga memberikan kemudahan bagi pelaku industri untuk memenuhi dan meningkatkan nilai TKDN produk mereka,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan