Pembangunan Helipad untuk Presiden Prabowo Subianto di Banyumas

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, diketahui membangun sebuah helipad di Desa Kalisube, Kecamatan/Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Proyek ini dibiayai dari anggaran APBN sebesar Rp 1,4 miliar dan bertujuan untuk memudahkan perjalanan presiden saat berziarah ke makam kakeknya, Margono Djojohadikusumo.

Helipad merupakan area pendaratan atau landasan khusus yang dirancang agar helikopter dapat lepas landas dan mendarat dengan aman. Biasanya, helipad hanya berupa permukaan datar yang jelas dan aman, sering kali ditandai dengan huruf ‘H’ di tengah lingkaran untuk meningkatkan visibilitas dari udara. Pemilihan lokasi helipad ini dilakukan dengan pertimbangan yang matang, mengingat tujuan utamanya adalah untuk memfasilitasi kebutuhan presiden dalam menjalankan ritual ziarah.

Menurut informasi yang diperoleh, pembangunan helipad ini masuk dalam program Instruksi Presiden (Inpres) Jalan Daerah (IJD). Kepala Bidang Perencanaan dan Pembangunan Jalan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Banyumas, Rusli Kurnia, menjelaskan bahwa proyek ini akan dimulai pada tahun ini. Ia menyatakan bahwa sebelumnya rencana pembangunan helipad direncanakan berada di area sekitar Desa Dawuhan, tempat makam kakek Prabowo berada. Namun, rencana tersebut batal karena lahan yang digunakan termasuk dalam kategori Lahan Sawah yang Dilindungi (LSD).

“Jadi dibuat helipad khusus, manakala Pak Presiden mau nyekar ke Dawuhan,” ujar Rusli Kurnia. Akibatnya, lokasi helipad dialihkan ke lapangan desa. Anggaran yang digunakan untuk pembangunan helipad mencapai Rp 1,4 miliar, yang bersumber dari APBN. Total anggaran untuk program IJD itu mencapai Rp 44 miliar, termasuk biaya pembangunan helipad.

Profil Margono Djojohadikusumo, Kakek Presiden Prabowo Subianto

Margono Djojohadikusumo, yang lahir pada 16 Mei 1894 di Purwokerto, Jawa Tengah, adalah sosok penting dalam sejarah Indonesia. Ia adalah cucu buyut dari Radne Tumenggung Banyak Wide atau Panglima Banyakwide yang merupakan pengikut setia dari Pangeran Diponegoro. Margono menikah dengan Siti Katoemi Wirodihadrjo dan memiliki tiga anak, termasuk Menteri Keuangan era Soekarno, Sumitro Djojohadikusumo.

Selain itu, dua anak lainnya, yaitu Kapten Anumerta Soebianto Djojohadikusumo dan Taruna Soejono Djojohadikusumo, gugur dalam Pertempuran Lengkong. Margono juga merupakan pendiri Bank Negara Indonesia (BNI), salah satu bank BUMN terbesar di Indonesia. Selain itu, ia pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS) dan dilantik sehari setelah Soekarno dan Mohammad Hatta dilantik menjadi Presiden dan Wakil Presiden.

Margono juga turut serta dalam berdirinya Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) untuk membantu merumuskan dasar negara. Karier politik dan ekonominya dihabiskan di BNI hingga tahun 1970. Ia wafat pada 25 Juli 1978 di Jakarta dan dimakamkan di makam keluarga di Desa Dawuhan, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Upaya Pengusulan sebagai Pahlawan Nasional

Pengusulan Margono Djojohadikusumo sebagai pahlawan nasional telah dilakukan oleh beberapa pihak. Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, mengusulkan agar Margono diangkat sebagai pahlawan nasional atas jasa-jasanya bagi Indonesia. “Raden Mas Margono Djojohadikusumo bukan hanya seorang ekonom ulung, juga negarawan visioner,” katanya pada 19 Maret 2025 lalu.

Selain itu, Pemkab Purbalingga juga mendukung pengusulan tersebut. Wakil Bupati Purbalingga, Dimas Prasetyahani, menyatakan dukungan penuh terhadap usulan ini. Menurutnya, ada tiga faktor utama yang membuat Margono layak diangkat sebagai pahlawan nasional: pertama, kontribusi dalam membangun pondasi ekonomi melalui pendirian BNI; kedua, perjuangan dalam mewujudkan keadilan sosial; dan ketiga, jasa-jasa yang layak menjadi warisan luhur bangsa Indonesia.