Penyebaran Mpox di Berbagai Negara

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa virus cacar monyet atau mpox masih menyebar di 17 negara di Afrika. Penularan aktif terjadi selama enam minggu terakhir, dengan jumlah kasus yang meningkat secara signifikan. Dalam periode antara 14 September hingga 19 Oktober 2025, telah tercatat 2.862 kasus terkonfirmasi, termasuk 17 kematian.

Selain di Afrika, mpox juga telah terdeteksi di beberapa negara lainnya seperti Malaysia, Namibia, Belanda, Portugal, dan Spanyol. Di negara-negara tersebut, virus ini ditemukan dalam bentuk Clade Ib mpox (MPXV), yang merupakan pertama kalinya sejak laporan terakhir WHO.

Gejala dan Risiko dari Infeksi Mpox

Mpox adalah infeksi virus yang menyebar melalui kontak dekat. Gejalanya biasanya mirip dengan flu dan disertai lesi bernanah di berbagai bagian tubuh. Meskipun gejalanya umumnya ringan, kondisi ini bisa berujung pada kematian jika tidak ditangani dengan baik.

Penularan dapat terjadi dari hewan liar, terutama hewan pengerat, ke manusia. Pada masa lalu, wabah biasanya terjadi di daerah terpencil dan cepat menghilang. Namun, situasi saat ini berbeda karena penyebaran virus semakin luas.

Mpox dapat menyebabkan lepuh yang menyakitkan. Pada anak-anak atau orang dewasa dengan sistem kekebalan tubuh yang rusak, infeksi ini bisa berbahaya dan menyebabkan kematian.

Sejarah Penyebaran Mpox

Selama beberapa dekade, Kongo menjadi satu-satunya negara yang mengalami wabah besar. Namun, pada tahun 2022, virus ini mulai menyebar secara eksplosif ke berbagai belahan dunia. Wabah ini terutama menjangkiti kalangan pria yang berhubungan seks dengan pria, sehingga memicu pengumuman Darurat Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia (PHEIC) untuk pertama kalinya.

Saat ini, mpox lebih mudah menular dari orang ke orang, menyebabkan penyebaran yang berkelanjutan. Virus ini juga telah menyebar ke daerah perkotaan, yang berbeda dengan penyebaran sebelumnya.

Lonjakan Kasus di Afrika dan Pengakhiran Darurat

Kasus-kasus mpox melonjak di Afrika pada musim panas 2024, yang membuat WHO pada bulan Agustus 2024 mengumumkan lonjakan tersebut sebagai PHEIC, tingkat kewaspadaan tertingginya. Hanya empat penyakit lain yang pernah mendapatkan status PHEIC.

Namun, dalam beberapa bulan terakhir, jumlah kasus mpox baru telah menurun. Hal ini mendorong Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, untuk mengumumkan pada tanggal 5 September bahwa ia mengakhiri PHEIC, sesuai rekomendasi komite penasihat.

Meskipun status darurat telah diakhiri, mpox masih tetap menjadi epidemi di Afrika. WHO menilai bahwa wabah ini belum sepenuhnya berakhir dan perlu dipantau secara terus-menerus.

Langkah Pencegahan dan Edukasi

Untuk mencegah penyebaran lebih lanjut, WHO menyarankan masyarakat agar tetap waspada dan mengikuti protokol kesehatan yang dianjurkan. Edukasi tentang gejala, cara penularan, serta tindakan pencegahan sangat penting, terutama bagi mereka yang tinggal di area rawan.

Selain itu, vaksinasi juga menjadi salah satu strategi utama dalam mengendalikan penyebaran mpox. WHO terus bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memastikan akses vaksin yang merata dan efektif.

Dengan pemantauan yang ketat dan kolaborasi global, diharapkan penyebaran mpox dapat dikendalikan dan dampaknya dapat diminimalkan.