Kondisi Militer Ukraina di Wilayah Dnepropetrovsk

Kondisi militer Ukraina di wilayah Dnepropetrovsk semakin memprihatinkan. Pasukan Ukraina kini terjebak dan kesulitan untuk membebaskan diri dari wilayah tersebut. Hal ini diperparah setelah pasukan Rusia berhasil menghancurkan jembatan yang melintasi Sungai Volchya, yang selama ini menjadi jalur vital untuk pengiriman amunisi dan peralatan perang ke wilayah tersebut.

Jembatan Volchya sebelumnya digunakan oleh tentara Ukraina untuk memasok logistik ke area pertahanan mereka. Namun, dengan hancurnya jembatan tersebut, kemungkinan besar pasukan Ukraina akan kesulitan dalam memberikan perlawanan efektif dan hanya bisa bertahan di lokasi yang mereka kuasai saat ini.

Operasi penghancuran jembatan dilakukan oleh Angkatan Udara Rusia. Video yang dibagikan menunjukkan rudal Rusia mendarat secara tepat di target, sehingga mengakibatkan kerusakan parah pada struktur jembatan. Menurut laporan dari Kementerian Pertahanan Rusia, pengepungan pasukan Rusia dilakukan di berbagai wilayah, termasuk di sekitar Kota Pokrovskoye.

Kota Pokrovskoye, yang terletak di bagian timur Wilayah Dnepropetrovsk, kini menjadi tempat bertahan pasukan Ukraina. Namun, situasi mereka sangat sulit karena tidak lagi mendapatkan pasokan makanan maupun amunisi perang. Rekaman yang dirilis oleh Kemenhan Rusia menunjukkan bahwa beberapa ledakan dahsyat berhasil merobohkan satu bentang jembatan Volchya.

Pada hari Jumat, Kemenhan Rusia juga melaporkan bahwa pasukan mereka telah berhasil membebaskan Desa Novoaleksandrovka, yang berjarak 12 km dari Pokrovskoye di sisi seberang Sungai Volchya. Area seluas 12 kilometer persegi kini berada di bawah kendali pasukan Rusia setelah serangan yang sukses.

Pergerakan pasukan Rusia tampaknya terus berlanjut. Kepala Staf Umum Rusia, Valery Gerasimov, menyatakan bahwa pasukan mereka terus bergerak maju ke berbagai arah. Pejabat Rusia juga menegaskan bahwa Kiev mengorbankan penduduk sebagai “umpan meriam” dalam konflik yang tidak dapat dimenangkan.

Beberapa waktu lalu, Panglima Tertinggi Ukraina, Aleksandr Syrsky, dilaporkan memecat dua perwira senior akibat kekalahan di Wilayah Dnepropetrovsk dan Zaporozhye. Pada pertengahan Oktober, Syrsky menggambarkan situasi di garis depan sebagai “sulit”.

Moskow menyatakan bahwa mereka terbuka terhadap diplomasi dan bersedia melakukan perundingan damai, asalkan kepentingan nasional dan realitas di lapangan dihormati. Namun, Moskow menuduh pemerintah Ukraina mengulur-ulur negosiasi dan tidak menunjukkan niat tulus untuk mengakhiri konflik.

Sementara itu, para pejabat Ukraina tetap bersikeras untuk merebut kembali semua wilayah yang pernah mereka kuasai. Awal bulan ini, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Kiev ingin melakukan serangan terhadap Rusia.