Apa Itu Angin Duduk?

Angin duduk adalah kondisi yang sering disalahpahami oleh masyarakat. Banyak orang menganggapnya sebagai masuk angin yang lebih parah dan hanya membutuhkan pijatan atau minyak angin untuk diatasi. Padahal, secara medis, angin duduk dikenal dengan istilah angina pectoris, yaitu kondisi ketika jantung tidak mendapat pasokan darah beroksigen yang cukup. Hal ini biasanya disebabkan oleh penyempitan atau sumbatan pada pembuluh darah koroner, sehingga aliran darah menuju jantung berkurang.

Ketika suplai darah berkurang, otot jantung dipaksa bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Akibatnya, timbul rasa nyeri atau tekanan di dada yang sering digambarkan seperti dada terhimpit, sesak, atau terasa berat. Keluhan tersebut bisa muncul di bagian tengah dada, lalu menjalar ke bahu, leher, rahang, punggung, lengan, hingga ulu hati. Tak jarang, gejalanya disalahartikan sebagai sakit maag atau gangguan pencernaan.

Serangan angin duduk bisa terjadi kapan saja, baik saat beraktivitas maupun beristirahat. Saat tubuh tenang, jantung biasanya masih mampu menyesuaikan diri, namun ketika kebutuhan oksigen meningkat, misalnya saat berolahraga atau stres—gejala bisa muncul mendadak.

Mitos vs Fakta tentang Angin Duduk

Banyak orang mengira angin duduk sama dengan masuk angin. Padahal, masuk angin hanya melibatkan penumpukan gas atau ketegangan otot ringan, sedangkan angin duduk melibatkan gangguan serius pada jantung. Berikut perbedaan mendasar antara keduanya:

  • Masuk angin: umumnya ditandai perut kembung, pegal, dan meriang, bisa hilang dengan istirahat atau kerokan.
  • Angin duduk: menyebabkan nyeri dada seperti ditekan kuat, dapat menjalar ke bagian tubuh lain, dan berisiko memicu serangan jantung.

Rasa sakit akibat angin duduk biasanya berlangsung sekitar 10–15 menit dan tidak hilang meski sudah dipijat atau dibaluri minyak angin. Inilah sebabnya angin duduk tidak boleh disamakan dengan masuk angin biasa, demikian peringatan para tenaga medis.

Penanganan dan Pencegahan

Untuk angin duduk ringan, perubahan gaya hidup dapat membantu meredakan gejala dan mencegah kekambuhan, seperti:

  • Menghindari rokok dan alkohol,
  • Mengontrol tekanan darah, kolesterol, dan gula darah,
  • Berolahraga ringan secara rutin,
  • Mengelola stres, dan
  • Mengatur pola makan sehat.

Namun, jika gejala makin sering kambuh atau terasa berat, segera periksakan diri ke dokter. Biasanya, dokter akan memberikan obat untuk memperlancar aliran darah ke jantung. Dalam kasus lebih parah, tindakan medis seperti pemasangan ring jantung atau operasi bypass bisa menjadi pilihan. Tanpa penanganan cepat, angin duduk bisa berkembang menjadi serangan jantung yang mengancam nyawa dalam hitungan menit.

Pentingnya Kesadaran dan Tindakan Cepat

Angin duduk bukanlah penyakit ringan. Jangan hanya mengandalkan kerokan, pijat, atau balsam. Jika Anda atau orang di sekitar merasakan nyeri dada yang menjalar dan tidak hilang dalam 10–15 menit, segera hubungi layanan darurat medis. Mengetahui perbedaan antara angin duduk dan masuk angin dapat menyelamatkan nyawa.