Rusia Kembali Aktif di Suriah: Penerbangan Militer Dimulai Lagi

Penerbangan militer Rusia ke Suriah kembali dilakukan setelah jeda selama enam bulan. Hal ini menandai kembalinya kehadiran militer Rusia di negara tersebut, yang terjadi setelah penggulingan Presiden Bashar al-Assad.

Data pelacakan penerbangan menunjukkan bahwa pesawat angkut Il-62 dan jet kargo berat An-124 baru-baru ini mendarat di pangkalan udara Hmeimim di provinsi Latakia. Menurut laporan dari platform Flightradar24, An-124-100 Ruslan tiba di sana sebanyak tiga kali antara Jumat dan Rabu. Sementara itu, pesawat angkut Il-26M dilaporkan terbang dengan rute wilayah Libya-Latakia-Moskow minggu lalu.

Seorang sumber yang dekat dengan Kremlin mengonfirmasi dimulainya kembali penerbangan militer ini. Namun, hingga saat ini, Kementerian Pertahanan dan Kementerian Luar Negeri Rusia, serta Kementerian Informasi Suriah, belum memberikan respons terhadap permintaan komentar.

Rekam Jejak Rusia di Suriah

Rusia memiliki dua pangkalan militer di Suriah, yaitu di Kota Hmeimim dan Kota Tartus. Kedua pangkalan ini digunakan untuk mendukung operasi udara dan logistik sejak Rusia memberikan dukungan nyata bagi pihak Assad dalam perang saudara Suriah yang pecah pada tahun 2011.

Sejak saat itu, pemerintah Barat dan kelompok hak asasi manusia menuduh pasukan Rusia melakukan pengeboman tanpa pandang bulu yang menewaskan ribuan warga sipil dan merusak daerah perkotaan. Namun, akses Rusia ke Hmeimim dan fasilitas angkatan lautnya di Tartus menjadi tidak stabil setelah Assad jatuh dan melarikan diri dari keruntuhan rezimnya, kemudian menetap di Moskow Desember lalu.

Rusia kemudian memberikan suaka kepada pemimpin terguling tersebut.

Hubungan dengan Pemimpin Baru Suriah

Meskipun sebelumnya Rusia mendukung Assad, pemimpin baru Suriah, Ahmed al-Sharaa, tampaknya berupaya menjaga hubungan yang stabil dengan Rusia. Ini dilakukan sebagai bagian dari prospek masa depannya.

Ahmed al-Sharaa, yang mengambil alih pemerintahan transisi Suriah, bahkan bertemu Presiden Vladimir Putin di Moskow pada 15 Oktober untuk membahas status pangkalan Rusia di Suriah serta isu-isu lainnya. Menteri Pertahanan Rusia Andrei Belousov juga bertemu dengan mitranya dari Suriah, Murhaf Abu Qasra, pada hari Selasa.

Moskow memandang pentingnya mempertahankan kedua pangkalan tersebut, yang berfungsi sebagai pusat utama dalam mendukung operasi di Timur Tengah dan Afrika. Hal ini dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan dengan Barat atas invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina.

Sumber yang mengetahui diskusi tersebut mengatakan kepada Bloomberg awal tahun ini bahwa mereka memperkirakan jejak militer Rusia di Suriah akan menyusut dibandingkan dengan era Assad.