Serangan Udara Israel di Jalur Gaza Mengakibatkan Korban Jiwa yang Signifikan

Serangan udara Israel di wilayah Jalur Gaza pada malam hari menewaskan sedikitnya 104 warga Palestina, termasuk 35 anak-anak. Angka ini mencerminkan jumlah korban terbesar sejak gencatan senjata diberlakukan pada 10 Oktober. Serangan tersebut disebut sebagai pelanggaran paling serius terhadap perjanjian gencatan senjata yang diwacanakan oleh Amerika Serikat.

Menurut data dari badan pertahanan sipil Gaza, serangan juga melukai sekitar 200 orang dan merusak sejumlah permukiman serta tenda pengungsi di dekat kamp Insan, yang menjadi tempat tinggal pasien kanker. “Ini adalah situasi yang sangat mengerikan dan menakutkan. Serangan ini jelas merupakan pelanggaran mencolok terhadap perjanjian gencatan senjata,” ujar juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Bassal.

Laporan gabungan dari lima rumah sakit di Gaza yang dikumpulkan oleh Agence France-Presse (AFP) mengonfirmasi jumlah korban tewas dan luka. Badan pertahanan sipil menyebut bahwa sebagian besar korban adalah warga sipil yang sedang berada di tenda pengungsian saat serangan terjadi.

Serangan udara itu terjadi beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa tidak ada pihak yang akan menggagalkan kesepakatan gencatan senjata yang dia bantu mediasi. Namun, di atas pesawat kepresidenan Air Force One, Trump juga mengatakan bahwa Israel memiliki hak untuk membalas jika tentaranya diserang. “Mereka membunuh seorang prajurit Israel, jadi Israel membalas. Dan itu wajar,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan bahwa gencatan senjata masih bertahan meskipun terjadi beberapa bentrok kecil. Namun, serangan malam itu menunjukkan kerentanan perjanjian tersebut, yang sejak awal telah diwarnai dengan pelanggaran-pelanggaran. Sebelum insiden terbaru, otoritas media Gaza telah mencatat 80 pelanggaran oleh pasukan Israel sejak gencatan senjata dimulai, dengan 97 warga Palestina tewas dan 230 lainnya terluka.

Penjelasan dari Pemerintah Israel

Pemerintah Israel menyatakan bahwa serangan dilakukan setelah baku tembak antara milisi Palestina dan pasukan Israel di Rafah. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memerintahkan serangan udara sebagai “tanggapan atas pelanggaran Hamas terhadap kesepakatan.” Media Israel melaporkan insiden dimulai setelah pasukan mereka diserang oleh penembak jitu dan peluru anti-tank di perbatasan Rafah.

Penyangkalan dari Hamas

Namun, Hamas membantah tuduhan tersebut. Dalam pernyataannya, kelompok perlawanan Palestina tersebut menegaskan komitmennya terhadap perjanjian gencatan senjata yang ditandatangani di Kairo dengan dukungan AS. “Pengeboman kriminal yang dilakukan oleh tentara pendudukan fasis di sejumlah wilayah Jalur Gaza merupakan pelanggaran nyata terhadap perjanjian,” kata juru bicara Hamas.

Hamas juga mendesak para mediator internasional untuk segera menekan Israel agar menghentikan serangan dan memastikan kepatuhan penuh terhadap ketentuan perjanjian. Serangan itu pun mendorong Hamas menunda rencana penyerahan jenazah sandera Israel.

Penjelasan dari Militer Israel

Sumber militer Israel menyebut serangan tersebut bukan berarti dimulainya kembali invasi skala penuh. “Kami belum bisa menjelaskan skalanya,” ujar juru bicara militer Israel (IDF). IDF juga menambahkan, pihaknya telah “mengembalikan status gencatan senjata” di Gaza.

Kemarahan Publik Israel

Kemarahan publik Israel meningkat setelah muncul laporan bahwa Hamas menyerahkan potongan tubuh seorang sandera yang ternyata merupakan jasad yang telah ditemukan dua tahun lalu. Hal itu memicu tekanan dari para menteri garis keras, termasuk Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich, yang mendesak Netanyahu untuk melanjutkan perang.

Dalam perjanjian gencatan senjata, Hamas diwajibkan menyerahkan jenazah seluruh sandera Israel, sementara Israel harus menyerahkan 15 jenazah warga Palestina untuk setiap jenazah sandera yang dikembalikan. Sejauh ini, Hamas telah menyerahkan 15 jenazah, dengan 13 lainnya masih berada di Gaza.