Kekerasan di Tepi Barat: Tiga Warga Palestina Tewas Ditembak oleh Pasukan Israel

Pada hari Selasa (28/10), situasi di wilayah pendudukan Tepi Barat kembali memanas setelah tiga pria Palestina tewas ditembak oleh pasukan Israel di desa Kafr Qud, yang terletak sebelah barat kota Jenin. Peristiwa ini dikonfirmasi oleh Kementerian Kesehatan Palestina, yang menyebutkan bahwa para korban meninggal akibat luka tembak yang diderita saat operasi militer berlangsung.

Menurut laporan dari Otoritas Umum Urusan Sipil Palestina, ketiga korban tewas dalam operasi penyerbuan yang dilakukan oleh pasukan Israel ke desa Kafr Qud pada sore hari. Ketiga jenazah masih berada dalam penguasaan pasukan Israel setelah peristiwa tersebut. Pemerintah Palestina mengecam tindakan tersebut secara keras dan menilai bahwa aksi pasukan Israel melanggar hukum internasional serta hak asasi manusia.

Kantor berita resmi Palestina, WAFA, melaporkan bahwa pasukan Israel datang ke Kafr Qud dengan membawa kendaraan militer berat dan melakukan pengepungan terhadap salah satu lokasi di desa tersebut. Dalam pengepungan itu, pasukan Israel melepaskan tembakan peluru tajam yang menewaskan tiga warga Palestina. Sumber lokal menyebutkan bahwa pasukan Israel juga mencegah warga setempat mendekat ke lokasi kejadian dan menahan ambulans yang hendak mengevakuasi korban.

Sementara itu, kelompok perlawanan Hamas mengeluarkan pernyataan resmi yang menyebut dua dari tiga korban merupakan anggota mereka. Hamas mengatakan ketiganya tewas dalam baku tembak dengan pasukan Israel yang melakukan operasi militer di daerah tersebut. Pernyataan itu menyebut bahwa ketiga korban telah berusaha mempertahankan diri dan wilayah mereka dari serangan pasukan pendudukan.

Militer Israel, melalui pernyataan yang dikeluarkan pada hari yang sama, menyebut bahwa operasi di Kafr Qud merupakan bagian dari kegiatan kontra-terorisme yang dilakukan untuk menargetkan sel militan di wilayah Tepi Barat utara. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengklaim bahwa selama operasi, mereka berhasil mengidentifikasi kelompok bersenjata yang bersembunyi di sebuah gua dan kemudian menembak mereka. Dua orang disebut tewas di tempat, sementara satu orang lainnya dilumpuhkan dalam serangan lanjutan.

Menurut IDF, operasi tersebut dilakukan untuk mencegah rencana serangan yang disebut akan dilakukan oleh kelompok bersenjata terhadap pasukan Israel di wilayah sekitar Jenin. Namun, hingga kini belum ada bukti independen yang mengonfirmasi klaim tersebut. Pihak Palestina menuding Israel kerap menggunakan alasan keamanan untuk melakukan penggerebekan yang berujung pada kematian warga sipil.

Peristiwa di Kafr Qud menambah panjang daftar bentrokan antara pasukan Israel dan warga Palestina di Tepi Barat sejak awal tahun 2025. Daerah utara Tepi Barat, termasuk Jenin, Nablus, dan Tulkarm, menjadi sasaran operasi militer berulang kali dengan dalih memburu kelompok bersenjata. Namun dalam banyak kasus, operasi tersebut berujung pada korban jiwa dari kalangan warga sipil.

Warga Palestina di Jenin menggambarkan suasana desa Kafr Qud setelah serangan berlangsung sebagai mencekam. Banyak rumah rusak akibat tembakan, dan sebagian warga harus mengungsi ke daerah sekitar untuk menghindari bentrokan lanjutan. Beberapa saksi mata menyebut suara tembakan dan ledakan terdengar hampir selama satu jam sebelum pasukan Israel menarik diri dari lokasi.

Pihak Kementerian Kesehatan Palestina menegaskan bahwa ketiga korban akan segera diidentifikasi setelah jenazah dikembalikan oleh pihak Israel. Hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan dari otoritas Israel terkait rencana pengembalian jenazah tersebut. Kementerian juga mengimbau masyarakat internasional untuk menekan Israel agar menghentikan tindakan kekerasan terhadap warga sipil Palestina.

Sejak awal 2025, eskalasi kekerasan di Tepi Barat terus meningkat seiring intensifnya operasi militer Israel di berbagai wilayah Palestina. Data dari lembaga hak asasi manusia menunjukkan ratusan warga Palestina telah tewas dan ribuan lainnya terluka akibat operasi militer yang disebut Israel sebagai upaya pemberantasan terorisme. Namun bagi warga Palestina, tindakan tersebut dianggap sebagai bagian dari kebijakan pendudukan yang menargetkan kehidupan dan kedaulatan mereka di tanah sendiri.